Sudah hampir 15 menit saya
duduk terdiam di depan laptop dengan mata memandang detikan jam. Terkadang
pandangan teralihkan ke secangkir Kopi Robusta yang mulai dingin. Tubuh saya di
situ. Pikiran saya sedang piknik.
Masih
mengingat-ingat,sebulan terakhir ini sedang banyak mendengarkan opini/berita
tentang rasa sangsi terhadap integritas. Benar, integritas yang merupakan
sebuah nilai yang masih dikejar.
Desember 2015, Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan pengumuman daftar Indeks Integritas
Sekolah di Indonesia. Bagi saya itu langkah yang sangat baik. Sangat baik?
Untuk siapa?
Untuk masa depan kejujuran
di Indonesia.
Integritas adalah hasil
dari tanggung jawab. Ya, tanggung jawab terhadap sikap/ucapan bahkan pilihan.
Menurut saya, seseorang mampu tanggung jawab terhadap pilihannya jika dia sudah
mampu jujur pada dirinya sendiri.
Oke, back to topic..
Pemerintah berani
memberikan apresiasi terhadap integritas sekolah merupakan hal yang menarik. Out of the box, nggak sih? Selama ini mereka
hadir lewat banyak berita pencegahan korupsi yang mulai terdengar fals di telinga. Mencegah, Melarang,
Mengadili, tapi entah kenapa kali ini yang menarik perhatian saya saat mereka
hadir dengan langkah apresiasi. Kreatif! They
have been thinking the other side!
Pertanyaan berikutnya yang
muncul adalah, lalu bagaimana standard penilaianya sampai muncul daftar
indeks integritas sekolah? Kemendikbud menggunakan tolak ukur nilai UN untuk
mengukur indeksnya. Memang mendikbud mengakui bahwa indeks integritas yang
didapatkan dari UN ini tidak bisa mengukur semua aspek integritas, tapi dari
sini setidaknya bisa mencerminkan pola kejujuran sekolah ketika melaksanakan
ujian.
Selengkapnya di sini :
Kurang puas dengan
lansiran tersebut,saya putuskan untuk diskusi dengan seorang kepala sekolah.
Berikut hasil diskusinya:
Justru indeks integritas
diambil dari selisih antara rata-rata Nilai Rapot Sekolah (NS) dengan Nilai Ujian Nasional (UN). Semakin kecil selisihnya
maka integritasnya semakin tinggi.
Logikanya seperti ini :
Sekolah
A : Rata-rata NS = 90, Rata-rata UN = 92, maka selisihnya adalah 2.
Sekolah
B : Rata-rata NS = 90, Rata-rata UN = 50, maka selisihnya adalah 40.
Jadi kesimpulanya Sekolah A memiliki tingkat integritas yang lebih baik daripada Sekolah B.
Jadi kesimpulanya Sekolah A memiliki tingkat integritas yang lebih baik daripada Sekolah B.
Emmm…masuk akal jika
hubungannya dengan integritas nilai yang didapat dari sekolah. Konsistensi
terhadap kemampuan sekolah dalam mempertahankan skornya mampu menjadi tolak
ukur integritas sekolah tersebut.
“Loh, sekarang gini deh,ambilah sample acak, misal ada
sebuah sekolah yang rata-rata NS nya 90, trus rata-rata UN-nya 90, tetapi
sekolah tersebut mewajarkan segala cara untuk meraih point 90 nya. Apa yang
seperti ini masih bisa disebut sekolah berintegritas?”
Secara skor? Ya!
Secara jujur? Sama sekali
tidak!
Lalu solusinya seperti
apa? Computer Based Test setiap melakukan ujian di sekolah?
Ayolah…come on.. Hacker Indonesia
pinter-pinter lho.
Atau Ujian dengan 1 pengawas per 1 siswa? Bolehlah, bisa meminimalisir kok
walaupun pasti akan terjadi pembengkakan biaya yang banyak untuk memberi honor
pengawas yg jumlahnya sama dengan jumlah siswa yang ikut ujian.
Seketat-ketatnya rok mini,
masih ada saja mata laki-laki yang jago menerawang isi rok tersebut. Sama
halnya seketat-ketatnya aturan pasti selalu ada saja celah yang bisa dilanggar.
Rok Mini
Wah berarti susah juga ya untuk melakukan penilaian tingkat integritas
seorang siswa ataupun sekolah?
Susah tidaknya bagi saya
tidak penting. Lebih penting adalah usaha untuk memahami tujuan dari integritas
dan kerja sama untuk membangun iklim kejujuran. Memang integritas tidak secara
instan terbentuk pada diri seseorang. Kalo masih menagih solusi sih sebenarnya cara paling efektif bagi
masyarakat untuk membantu pemerintah adalah pada pendidikan dasar.
Pendidikan dasar tidak hanya di TK,tetapi juga “wajib hidup” di keluarga dan
lingkungan tempat tinggal.
Mengajarkan Salah Satu Nilai Moral Berbagi
Mengajarkan Bahasa Inggris
kepada anak TK itu penting, tetapi bukankah lebih penting untuk mengajarkanya
mengantri saat cuci tangan di wastafel umum, bukankah lebih penting untuk
mengapresiasinya saat ia mengakui telah mencoret-coret tembok rumah, bukankah
lebih penting untuk mengajarkan untuk bilang “maaf” dan “ terima kasih”?
Benih-benih integritas akan muncul dan berkembang dari perbuatan-perbuatan
kecil ini.
Jika itu diajarkan secara
wajib dan teratur oleh manusia dewasa di Indonesia ke anak-anak disekitarnya,
tidak hanya nilai indeks sekolah integritas yang akan naik, tetapi juga nilai Corruption Perception Index.
Sangat erat hubungan antara integritas dengan korupsi.
Transparency International sebuah lembaga survei tentang tingkat korupsi
Negara-negara dunia yang bermarkas di Berlin, telah meluncurkan sebuah Corruption Perception Index setiap tahunnya. Tahun 2015,
Indonesia berada di urutan 88 dalam Corruption
Perception Index dari 168
negara dan territorial. Memiliki nilai 36 dari skala 100. Skala ini menunjukkan
bahwa 0 berarti negara dipersepsikan sangat korup, sementara skor 100 berarti
dipersepsikan sangat bersih.
10 Besar
CPI
(Sumber
: http://www.transparency.org/cpi2015)
Posisi Indonesia di CPI
(Sumber : http://www.transparency.org/cpi2015)
(Sumber
GCI : http://www3.weforum.org/docs/WEF_GlobalCompetitivenessReport_2014-15.pdf
)
Goalnya adalah Corruption Perception Index-nya bagus, otomatis nilai Global Competitiveness Index (indeks kompetensi global) juga naik. Hal ini terjadi karena tingkat kompetensi global sebuah negara juga dapat dilihat dari seberapa besar tingkat korupsi di negara tersebut. Semakin dini dan terbiasa siswa mendapatkan apresiasi tentang kejujuran,secara ideal, integritasnya akan naik juga, karena di mindset-nya melakukan tindakan jujur merupakan hal yang bahagia. Saat berbicara masyarakat dengan tingkat integritas kejujuran baik yang terukur lewat indeks-indeks tersebut, mimpi Indonesia untuk memiliki pemimpin "bersih" bukan mustahil akan terwujud.
Karena integritas diawali
dari kejujuran, dan kejujuran adalah investasi jangka panjang yang sangat baik
dan potensial bagi sebuah negara.
Bryansetio
.
