Rabu, 17 Februari 2016

Integritas yang Seperti Apa?


Sudah hampir 15 menit saya duduk terdiam di depan laptop dengan mata memandang detikan jam. Terkadang pandangan teralihkan ke secangkir Kopi Robusta yang mulai dingin. Tubuh saya di situ. Pikiran saya sedang piknik.

Masih mengingat-ingat,sebulan terakhir ini sedang banyak mendengarkan opini/berita tentang rasa sangsi terhadap integritas. Benar, integritas yang merupakan sebuah nilai yang masih dikejar.

Desember 2015, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan pengumuman daftar Indeks Integritas Sekolah di Indonesia. Bagi saya itu langkah yang sangat baik. Sangat baik? Untuk siapa?
Untuk masa depan kejujuran di Indonesia.

Integritas adalah hasil dari tanggung jawab. Ya, tanggung jawab terhadap sikap/ucapan bahkan pilihan. Menurut saya, seseorang mampu tanggung jawab terhadap pilihannya jika dia sudah mampu jujur pada dirinya sendiri.



Oke, back to topic..
Pemerintah berani memberikan apresiasi terhadap integritas sekolah merupakan hal yang menarik. Out of the box, nggak sih? Selama ini mereka hadir lewat banyak berita pencegahan korupsi yang mulai terdengar fals di telinga. Mencegah, Melarang, Mengadili, tapi entah kenapa kali ini yang menarik perhatian saya saat mereka hadir dengan langkah apresiasi. Kreatif! They have been thinking the other side!

Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah, lalu bagaimana standard penilaianya sampai muncul daftar indeks integritas sekolah? Kemendikbud menggunakan tolak ukur nilai UN untuk mengukur indeksnya. Memang mendikbud mengakui bahwa indeks integritas yang didapatkan dari UN ini tidak bisa mengukur semua aspek integritas, tapi dari sini setidaknya bisa mencerminkan pola kejujuran sekolah ketika melaksanakan ujian.

Kurang puas dengan lansiran tersebut,saya putuskan untuk diskusi dengan seorang kepala sekolah. Berikut hasil diskusinya:

Justru indeks integritas diambil dari selisih antara rata-rata Nilai Rapot Sekolah (NS) dengan Nilai Ujian Nasional (UN). Semakin kecil selisihnya maka integritasnya semakin tinggi.
Logikanya seperti ini :

Sekolah A          :  Rata-rata NS = 90, Rata-rata UN = 92, maka selisihnya adalah 2.
Sekolah B          :  Rata-rata NS = 90, Rata-rata UN = 50, maka selisihnya adalah 40.
Jadi kesimpulanya Sekolah A memiliki tingkat integritas yang lebih baik daripada Sekolah B.


Emmm…masuk akal jika hubungannya dengan integritas nilai yang didapat dari sekolah. Konsistensi terhadap kemampuan sekolah dalam mempertahankan skornya mampu menjadi tolak ukur integritas sekolah tersebut.

“Loh, sekarang gini deh,ambilah sample acak, misal ada sebuah sekolah yang rata-rata NS nya 90, trus rata-rata UN-nya 90, tetapi sekolah tersebut mewajarkan segala cara untuk meraih point 90 nya. Apa yang seperti ini masih bisa disebut sekolah berintegritas?”

Secara skor? Ya!
Secara jujur? Sama sekali tidak!

Lalu solusinya seperti apa? Computer Based Test setiap melakukan ujian di sekolah? Ayolah…come on.. Hacker Indonesia pinter-pinter lho. Atau Ujian dengan 1 pengawas per 1 siswa? Bolehlah, bisa meminimalisir kok walaupun pasti akan terjadi pembengkakan biaya yang banyak untuk memberi honor pengawas yg jumlahnya sama dengan jumlah siswa yang ikut ujian.

Seketat-ketatnya rok mini, masih ada saja mata laki-laki yang jago menerawang isi rok tersebut. Sama halnya seketat-ketatnya aturan pasti selalu ada saja celah yang bisa dilanggar.

Rok Mini

Wah berarti susah juga ya untuk melakukan penilaian tingkat integritas seorang siswa ataupun sekolah?

Susah tidaknya bagi saya tidak penting. Lebih penting adalah usaha untuk memahami tujuan dari integritas dan kerja sama untuk membangun iklim kejujuran. Memang integritas tidak secara instan terbentuk pada diri seseorang. Kalo masih menagih solusi sih sebenarnya cara paling efektif bagi masyarakat untuk membantu pemerintah adalah  pada pendidikan dasar. Pendidikan dasar tidak hanya di TK,tetapi juga “wajib hidup” di keluarga dan lingkungan tempat tinggal.

Mengajarkan Salah Satu Nilai Moral Berbagi

Mengajarkan Bahasa Inggris kepada anak TK itu penting, tetapi bukankah lebih penting untuk mengajarkanya mengantri saat cuci tangan di wastafel umum, bukankah lebih penting untuk mengapresiasinya saat ia mengakui telah mencoret-coret tembok rumah, bukankah lebih penting untuk mengajarkan untuk bilang “maaf” dan “ terima kasih”? Benih-benih integritas akan muncul dan berkembang dari perbuatan-perbuatan kecil ini.

Jika itu diajarkan secara wajib dan teratur oleh manusia dewasa di Indonesia ke anak-anak disekitarnya, tidak hanya nilai indeks sekolah integritas yang akan naik, tetapi juga nilai Corruption Perception Index. Sangat erat hubungan antara integritas dengan korupsi.

Transparency International sebuah lembaga survei tentang tingkat korupsi Negara-negara dunia yang bermarkas di Berlin, telah meluncurkan sebuah Corruption Perception Index setiap tahunnya. Tahun 2015, Indonesia berada di urutan 88 dalam Corruption Perception Index dari 168 negara dan territorial. Memiliki nilai 36 dari skala 100. Skala ini menunjukkan bahwa 0 berarti negara dipersepsikan sangat korup, sementara skor 100 berarti dipersepsikan sangat bersih.




10 Besar CPI 
(Sumber : http://www.transparency.org/cpi2015)






Posisi Indonesia di CPI
(Sumber : http://www.transparency.org/cpi2015)
(Sumber GCI : http://www3.weforum.org/docs/WEF_GlobalCompetitivenessReport_2014-15.pdf )


Goalnya adalah Corruption Perception Index-nya bagus, otomatis nilai Global Competitiveness Index (indeks kompetensi global) juga naik. Hal ini terjadi karena tingkat kompetensi global sebuah negara juga dapat dilihat dari seberapa besar tingkat korupsi di negara tersebut. Semakin dini dan terbiasa siswa mendapatkan apresiasi tentang kejujuran,secara ideal, integritasnya akan naik juga, karena di mindset-nya melakukan tindakan jujur merupakan hal yang bahagia. Saat berbicara masyarakat dengan tingkat integritas kejujuran baik yang terukur lewat indeks-indeks tersebut, mimpi Indonesia untuk memiliki pemimpin "bersih" bukan mustahil akan terwujud. 
Karena integritas diawali dari kejujuran, dan kejujuran adalah investasi jangka panjang yang sangat baik dan potensial bagi sebuah negara.

Bryansetio
.