Jumat, 17 Maret 2017

Tentang Mikir Simple,Decision Making, & Ian


Sudut Kota Padang, 17 Maret 2017

11 bulan sudah saya tinggal di Solok. Solok,tempat saya berkarya di sebuah perusahaan unik. Belajar banyak di 11 bulan perjalanan ini. Belajar bahwa cara berteman di dunia kerja, berbeda dengan dunia kuliah. Dunia kerja professional, dunia kuliah lebih kekeluargaan. Belajar untuk memandang suatu permasalahan lebih dalam, butuh data, butuh analisis dan action plan yang nyata.

Saya merasa cukup beruntung dan bersyukur karena selama berkarya bertemu dengan para mentor yang sangat paham tentang proses bisnis. Memandang suatu permasalahan dengan cara sederhana namun menganalisanya dengan sangat dalam dalam waktu singkat.

Masih terlintas dengan kata-kata tegas,
“Cerdas, jujur,dan baik hati itu tidak cukup, jaman sekarang kamu juga harus punya speed” 

Melakukan pekerjaan dengan lebih cepat,lebih akurat, karena sumber data sudah bisa diakses dengan real time. Tools decision making semakin berkembang dan tinggal pilih. Ya tinggal dilatih, memakainya tahu tempat.

Entah bener atau engga,

Menurut saya,semakin tinggi posisi orang yang saya temui di perusahaan ini cara mikirnya semakin simple dan akumulasi dari jam terbang decision making menjadikan mereka lebih cepat dalam memaknai solusi.

Solusi.

Solusi pun disampaikan ke tim dengan cara yang membangun, bukan mendikte, tetapi mengajak mikir bareng. Terbiasa mikir bareng, tim semakin jago mecahin masalah.

Ya se-simple itu.

.
.
.
Kalau ngomongin develop team. Tidak pernah terlepas dari masa-masa kuliah. Jaman doyan banget organisasi. 

Saya belajar banyak tentang membangun team,dari partner in crime saya semasa kuliah, Ian.
Ardian Kusprimadi, orang yang menurut saya  jago banget decision making dan bisa membuat tim-nya grow.

Orang yang selalu punya alasan tulus & menarik di setiap perbuatan liciknya.

Pernah suatu hari saya,Ian, dan teman-teman menyewa mobil untuk jalan-jalan ke Kawah Ijen, Jawa Timur. Di tengah jalan, mobil kami kecelakaan. Walaupun dari kami tidak ada yang terluka, bagian depan mobil ringsek. Saat itu yang terpikir hanya harus pulang ke Semarang dengan mobil ringsek, dimarahi orang tua, keluar duit banyak buat memperbaiki mobil. 

Tapi saat itu saya masih ingat, dia membisikan sesuatu ke saya.
“ Wis terlanjur ringsek,mosok balik (sudah terlanjur rusak mosok pulang) , gimana kalo kita lanjut aja ti?, yang penting tugas kita tetap masang muka happy , biar teman2 juga happy. Teman-temen happy, liburan kita tetap seneng walaupun mobil ringsek,dan siap2 dimarahin orang tua mah urusan ntar.”

Gundulmu. 

Pikir saya.

Tapi jika dianalisis,

  1. Kalo saat itu pulang langsung, bisa jadi saya dan teman-teman tidak akan pernah punya waktu lagi untuk ke Kawah Ijen bersama-sama.
  2. Pasang muka happy : senyum itu effortless, tapi impactnya buat orang sekitar luar biasa. Paling nggak saat itu teman-teman saya happy (keliatannya sih.hehe) dengan keputusan melanjutkan perjalanan walau mobil ringsek.                      
  3. Perbaiki mobil bisa kok, lagian kan mobil ini sewa jadi kalo rusak yang butuh dipikirin uang ganti ruginya doang, ngga perlu takut dimarahi orang tua karena yang diringsekin bukan mobil pribadi.
  4. Duit bisa dicari, momen ? Belum tentu dateng 2x 
  5.  Oke Go Ahead 
  6. Akhirnya setelah dibawa ke bengkel sebentar sembari masang muka cengar cengir untuk memotivasi teman2, mobil siap berangkat dan kami jadi sampai ke kawah ijen, bahkan saat itu sempat lanjut ke Pulau Sempu yang luar biasa indahnya itu.
.
.
.
Back to decision making dan mikir simple.

Belajar dari Ian..
  1. Tetap fokus pada tujuan
  2. Pahami peranmu di dalam team 
  3.  Ajak team mikir solusi
  4. Action with less effort but high impact , quickly.

Hahahahahahaaa

Oiya,
Ternyata membangun tim yang baik, ngga butuh hanya motivasi, tapi juga  rasa percaya. Saya nggak akan pernah pergi ke kawah ijen kalo nggak percaya dengan Ian dan teman-teman saat itu.

Thanks guys. Dinamika masa lalu yang sangat terasa gunanya sampai hari ini.