Selasa, 25 Agustus 2015

Siang itu di Kerinci

Telah diputuskan, Kamis 13 Agustus 2015 sebagai awal dari perjalanan ke Padang. Nantinya selama sepuluh hari ke depan akan menjadi perjalanan pertama kali dalam menapaki alam Pulau Sumatera.


 Selama ini, hanya masakannya yang sudah sering saya makan. Sudah tidak asing lagi dengan istilah rendang, dendeng, atau ayam pop. Namun hanya sebatas makanan saja.  Padang, menjadi kota pertama di Sumatera yang saya tapaki. Petualangan ke Sumatera pada kali ini memiliki destinasi utama yaitu mengunjungi Taman Nasional Kerinci Seblat.

                                            foto: dokumentasi pribadi

Kerinci merupakan salah satu kabupaten di perbatasan Jambi dengan Padang, yang memiliki puncak tertinggi 3805 mdpl  di Gunung Kerinci. Dari bandara Minangkabau Padang, masih ditempuh 8jam perjalanan menggunakan Travel ke Desa Kersik Tuo, Kecamatan Gunung Tujuh , Kabupaten Kerinci.

                                            foto: dokumentasi pribadi

Ah, rasanya tidak perlu saya ceritakan bagaimana indahnya alam Kerinci. Pasti Path, Instagram, Facebook dan media sosial lainnya di bulan Agustus ini sudah penuh dengan posting tentang eloknya pemandangan gunung-gunung di Indonesia.
Maraknya pendakian di Hari Kemerdekaan sudah menjadi acara tahunan di puncak-puncak tertinggi nusantara.
Namun kali ini saya ingin memberikan segi pandang lain dari perayaan hari kemerdekaan di Puncak Gunung. Permasalahan klasik yang tidak kunjung usai, yaitu tentang sampah.

                                           foto: dokumentasi pribadi

                                            foto: dokumentasi pribadi

Oke, silahkan mau menyebut dirinya pecinta alam, atau sekedar pendaki gunung itu rasanya lebih tepat . Disamping semua itu sampah masih saja banyak digeletakkan di puncak ataupun lereng gunung. Salut, kepada teman-teman yang sudah memperlakukan sampahnya dengan baik saat mendaki.

Ada beberapa tips tentang pengendalian sampah, hasil diskusi saya dengan teman-teman yang sudah sering mendaki gunung namun belum mau disebut pecinta alam:

1.   Saat mendaki, bawa trashbag (kantong sampah) untuk membawa turun sampah sisa pendakian.
Bawa turun buang pada tempatnya, dan sebisa mungkin tidak dibakar.

                           foto:komunitas gimbal

2.  Jika teman-teman pendaki memiliki sampah yang dapat terurai saat mendaki, seperti sayuran, makanan basah, sisa buah, dan merasa berat saat hendak membawanya turun, tidak ada salahnya menguburnya dengan tanah di sekitar tempat berkemah.
Karena logikanya, sisa-sisa sayuran,buah, atau sampah lain yang mudah terurai, jika dipendam akan menjadi humus.
Ingat, ini hanya berlaku untuk sampah organik lho.

3.  Ingatkan dan beri solusi pendaki-pendaki lain yang membuang sampah sembarangan.

4.  Saat mendaki, bawa perlengkapan se-efisien mungkin, tidak perlu membawa barang-barang yang berlebihan seperti boneka,mantel bulu,atau atribut-atribut lain yang memakan tempat di tas carrier.


Saya pribadi bangga melihat teman-teman yang sudah berani mendaki puncak-puncak tertinggi Nusantara, dan merasa sangat berterimakasih kepada yang penuh tanggung jawab membawa sampahnya turun untuk dibuang pada tempatnya.


Salam hangat.
Bryansetio

18 komentar:

  1. Hehe. Terima kasih nggun va, sudah mampir.

    BalasHapus
  2. cuma sebentar ger..hehe. Gimana pendakian terakhir? terima kasih sudah dibaca.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    4. 17 Agustusan? Berjubel juga pendakinya ger?

      Hapus
    5. Awal agustus sih.. 17an ga betah yo rame nya

      Hapus
  3. Lebih sedih lagi tepat di jalur pendakian banyak ranjau buatan dan buang ranjau kena ranjau orang mz huhu

    BalasHapus
  4. kotoran manusia mas....cuma ditutupin tissue basah atau bahkan masuk plastik terus ditinggal

    BalasHapus
  5. hahaha.. nah bener cen, yo iyo sih kotoran juga bisa terurai, tapi bau juga ya kalo ditinggalin atau cuma ditutup tisu. Teknisnya harus dikubur ya kalo kotoran..?

    BalasHapus
  6. http://m.detik.com/travel/read/2015/05/28/162331/2927818/1048/6/lakukan-5-hal-ini-kalau-ingin-bab-saat-naik-gunung mungkin bisa jadi referensi ya mz...tau karena membaca, sok tau karena salah membaca, huhu

    BalasHapus
  7. referensinya bagus mas vincen! dan ditambahkan, tisunya jangan ditinggal. hahaha

    BalasHapus
  8. Tiyo the travel blogger saiki og.. ntap!

    BalasHapus
  9. wah lagi satu postingan bang. haha.
    sebagai blogger yang lebih senior boleh lho bang mail, ngasih komentar seputar konten,cara penulisan, topik, atau apapun mengenai blog baru ini. Terima kasih sudah membaca

    BalasHapus