Jumat, 04 September 2015

Tentang Sebuah Kebebasan Berekspresi

Momen ini sudah lewat dua minggu lalu bertepatan dengan ulang tahun Indonesia dan SMA saya tercinta.

Berawal dari perbincangan ringan dengan seorang sepupu. Mas Ronny, begitu saya memanggilnya. Saat itu dia sedang pulang kantor dan melepas penat sejenak lewat bermain dengan putri semata wayangnya, Arli.  Arli sosok bocah menggemaskan yang hobinya lari dan menggambar itu meminta sesuatu ke Bapaknya. Lalu dengan gesit si Bapak menyodorkan sebuah bolpen dan kertas untuk media “dicorat-coret” Arli.

“Kalau nggak gini, dia bakal nyoret-nyoret tembok dek,” celetuk Mas Ronny ke saya,sambil menunjuk bagian sudut rumahnya yang penuh coretan bolpen.

.....................................

Tiba-tiba saya teringat kejadian satu dekade yang lalu. Pada waktu itu saat masih duduk  di bangku SMA kelas 10. Kami sekelas dihukum lari keliling lapangan sambil bertelanjang dada akibat melakukan aksi vandalisme di meja sekolah. Meja dengan penuh coretan tipe-x terlihat sangat mencolok mata. Kotor sana sini. Masih teringat raut wajah guru yang pada waktu itu marah besar melakukan introgasi kepada kami atas tindakan yang diperbuat.

Konyol rasanya jika diingat-ingat.

Sekolah saya sudah dengan senang hati memberikan temboknya untuk dicorat-coret setiap tanggal 17 Agustus oleh para murid. Ya, Sekolah memang sangat menentang aksi  corat-coret yang tidak pada tempat nya , namun di sisi lain, tidak hanya menentang, mereka juga menghadirkan solusi kepada kami untuk berekspresi corat-coret di beberapa tembok-tembok yang memang “legal” untuk dicorat-coret. Jadi memang saat itu wajar saja jika guru saya marah bukan kepalang, karena kami bermain tidak pada tempatnya.

Ekspresi itu butuh ruang...

Tapi tidak di ruang yang ilegal seperti yang saya lakukan dengan teman-teman lewat vandalisme pada waktu kelas 10 SMA dulu.
Tapi tidak di ruang yang ilegal seperti yang dilakukan pendaki "alay" yang mencoret-coret batuan di puncak gunung.
Tapi tidak di ruang yang ilegal seperti yang dilakukan penumpang yang mencoret-coret kursi di fasilitas umum.

Ekspresi itu butuh wadah....

Wadah yang tepat sebagai pemacu kreativitas, seperti yang diberikan Mas Ronny ke putri kecilnya.

Menurut segi pandang saya, saat seseorang tumbuh dewasa dengan karakter temperamental atau mudah terbawa emosi, bisa jadi karena dulu semasa jadi pelajar kurang punya ruang/wadah bebas berekspresi yang tepat. Bisa-bisa orang-orang sekitar yang kena dampaknya akibat salah berekspresi.
Sebab ekspresi merupakan bagian dari luapan kebebasan manusia yang dibatasi oleh kebebasan manusia yang lain.

Salam hangat.
Selamat berekspresi pada tempatnya.





Bryansetio

Tidak ada komentar:

Posting Komentar