Momen
ini sudah lewat dua minggu lalu bertepatan dengan ulang tahun Indonesia dan SMA
saya tercinta.
Berawal dari perbincangan ringan dengan seorang sepupu. Mas
Ronny, begitu saya memanggilnya. Saat itu dia sedang pulang kantor dan melepas
penat sejenak lewat bermain dengan putri semata wayangnya, Arli. Arli sosok bocah menggemaskan yang hobinya lari
dan menggambar itu meminta sesuatu ke Bapaknya. Lalu dengan gesit si Bapak
menyodorkan sebuah bolpen dan kertas untuk media “dicorat-coret” Arli.
“Kalau nggak gini, dia bakal nyoret-nyoret
tembok dek,” celetuk Mas Ronny ke saya,sambil menunjuk bagian sudut rumahnya
yang penuh coretan bolpen.
.....................................
Tiba-tiba saya teringat kejadian satu dekade yang lalu. Pada
waktu itu saat masih duduk di bangku SMA
kelas 10. Kami sekelas dihukum lari keliling lapangan sambil bertelanjang dada
akibat melakukan aksi vandalisme di meja sekolah. Meja dengan penuh coretan
tipe-x terlihat sangat mencolok mata. Kotor sana sini. Masih teringat raut wajah
guru yang pada waktu itu marah besar melakukan introgasi kepada kami atas
tindakan yang diperbuat.
Konyol rasanya jika diingat-ingat.
Sekolah saya sudah dengan senang hati memberikan temboknya
untuk dicorat-coret setiap tanggal 17 Agustus oleh para murid. Ya, Sekolah
memang sangat menentang aksi corat-coret
yang tidak pada tempat nya , namun di sisi lain, tidak hanya menentang, mereka
juga menghadirkan solusi kepada kami untuk berekspresi corat-coret di beberapa
tembok-tembok yang memang “legal” untuk dicorat-coret. Jadi memang saat itu wajar saja jika guru saya marah bukan kepalang, karena kami bermain tidak pada tempatnya.
Ekspresi itu butuh ruang...
Tapi tidak di ruang yang ilegal seperti yang saya lakukan
dengan teman-teman lewat vandalisme pada waktu kelas 10 SMA dulu.
Tapi tidak di ruang yang ilegal seperti yang dilakukan
pendaki "alay" yang mencoret-coret batuan di puncak gunung.
Tapi tidak di ruang yang ilegal seperti yang dilakukan
penumpang yang mencoret-coret kursi di fasilitas umum.
Ekspresi itu butuh wadah....
Wadah yang tepat sebagai pemacu kreativitas, seperti yang
diberikan Mas Ronny ke putri kecilnya.
Menurut segi pandang saya, saat seseorang tumbuh dewasa
dengan karakter temperamental atau mudah terbawa emosi, bisa jadi karena dulu
semasa jadi pelajar kurang punya ruang/wadah bebas berekspresi yang tepat. Bisa-bisa
orang-orang sekitar yang kena dampaknya akibat salah berekspresi.
Sebab ekspresi merupakan bagian dari luapan
kebebasan manusia yang dibatasi oleh kebebasan manusia yang lain.
Salam hangat.
Selamat berekspresi pada tempatnya.
Bryansetio
Tidak ada komentar:
Posting Komentar