Senin, 07 Maret 2016

Jika Terpaksa harus, Ngeluhlah dengan Asik

Semarang, 6 Maret 2016
Hari Minggu. Siang yang tenang dan lengang di Rumah. Habis baca buku.

Iseng..
Ngecheck medsos.
Lalu mikir

Ini cuplikannya..

Gila ya!
Semua bisa terhubung lewat internet. Internet hadir disusul media sosial seperti Twitter, FB, Path, dan anteknya. Bahkan Hermawan Kartajaya di bukunya yang berjudul WOW Marketing menyebut bahwa  dunia marketing pun tidak ketinggalan berubah path-nya seiring hadirnya internet. Semuanya terhubung. Tidak hanya terhubung yang biasa, tapi terhubung secara instan. Hitungan detik,satu kali ‘klik’, hanya butuh energi yg minim. 

Media sosial membuat sebagian orang jadi mudah membelokkan citra. Bisa sebagai pendongkrak citra, bisa juga terdegradasi citranya melalui media yang satu ini.  

Interaksi yang banyak dan semakin sering dilakukan manusia pada media sosialnya masing-masing, memunculkan aturan-aturan baru dalam berelasi di dunia sosial. 
Tidak hapal undang-undangnya tapi setidaknya tahu etikanya udah bagus banget kok.
So, jaga diri  jika memutuskan untuk berkeluh kesah di medsos.

"Lho,tapi rasanya tuh puas kalo udah numpahin keluh kesah ke medsos"

Lucu. Memangnya hanya itu satu-satunya media agar puas untuk berkeluh kesah. Mengeluh di media sosial justru memperlihatkan betapa butuhnya si pengeluh akan  perhatian. Oke, kalo minta diperhatiin ya ngobrolah sama teman,orang tua atau orang-orang di kiri kanan. 
Oh, atau kalo orang yang ingin diajak bersosialisasi jauh tempatnya, dan tetep mau maksain dengan media sosial daripada telepon,nggak ada salahnya memakai fitur-fitur seperti direct message di Twitter atau Message Facebook, dan lainnya. Setidaknya sebisa mungkin hindari berkeluh kesah tidak pada tempatnya.

Nah itu jika hubungannya dengan orang lain.
Dan kalo terpaksa ingin mengeluh cari cara yang asik lahh buat ngeluh.

Kalau boleh sharing.
Salah satu tempat favorit saya untuk menghilangkan kebiasaan mengeluh adalah puncak gunung.

(Mahameru,2012)

Karena di puncak gunung saya ngerasa sangat kecil. Di situ terlihat bahwa sebenarnya masalah yang saya alami itu sangat kecil, di luar sana masih banyak masalah besar yang dialamin orang lain, jadi masak segitu aja ngeluh.
Hehehe.
Lantas setelah turun dari gunung masalah saya selesai? Ya enggak! hahaha
Tapi ya keluhan dari dalam pikiran akan berkurang,karena dari situ ada kesadaran baru yang muncul. Logika udah fresh dan siap dipakai.
Cara-cara lain banyak kok, yang penting berenti sejenak untuk “pause” dari rutinitas itu perlu lho untuk menghindari munculnya keluhan yang terucap dari diri.

Oke gini sederhananya.
Orang yang kebanyakan ngeluh, disebabkan karena kurangnya kemampuan menyederhanakan masalahnya.
Kenapa kemampuan menyederhanakan masalahnya berkurang?
Ya karena logikanya lagi belum jalan aja.

Kenapa logika nya belum jalan? Bisa jadi karena belum makan siang. hahaha

Selamat makan siang... mari makan.