Semarang, 6 Maret 2016
Hari Minggu. Siang yang tenang dan
lengang di Rumah. Habis baca buku.
Iseng..
Ngecheck medsos.
Lalu mikir…
Ini cuplikannya..
Gila ya!
Semua bisa terhubung lewat internet. Internet hadir disusul
media sosial seperti Twitter, FB, Path,
dan anteknya. Bahkan Hermawan Kartajaya di bukunya yang berjudul WOW
Marketing menyebut bahwa dunia marketing pun tidak ketinggalan berubah path-nya seiring hadirnya internet. Semuanya terhubung. Tidak hanya
terhubung yang biasa, tapi terhubung secara instan. Hitungan detik,satu kali ‘klik’,
hanya butuh energi yg minim.
Media sosial membuat sebagian orang jadi mudah membelokkan citra.
Bisa sebagai pendongkrak citra, bisa juga terdegradasi citranya melalui media
yang satu ini.
Interaksi yang banyak dan semakin sering dilakukan manusia
pada media sosialnya masing-masing, memunculkan aturan-aturan baru dalam berelasi
di dunia sosial.
Tidak hapal undang-undangnya tapi setidaknya tahu etikanya udah bagus banget kok.
So, jaga diri jika
memutuskan untuk berkeluh kesah di medsos.
"Lho,tapi
rasanya tuh puas kalo udah numpahin keluh kesah ke medsos"
Lucu. Memangnya hanya itu satu-satunya media agar puas untuk
berkeluh kesah. Mengeluh di media sosial justru memperlihatkan betapa butuhnya
si pengeluh akan perhatian. Oke, kalo
minta diperhatiin ya ngobrolah sama teman,orang tua atau
orang-orang di kiri kanan.
Oh, atau kalo orang yang ingin diajak bersosialisasi jauh
tempatnya, dan tetep mau maksain dengan media sosial daripada telepon,nggak ada salahnya memakai fitur-fitur
seperti direct message di Twitter
atau Message Facebook, dan lainnya.
Setidaknya sebisa mungkin hindari berkeluh kesah tidak pada tempatnya.
Nah itu jika hubungannya dengan orang lain.
Dan kalo terpaksa ingin mengeluh cari cara yang asik lahh
buat ngeluh.
Kalau boleh sharing.
Salah satu tempat favorit saya untuk menghilangkan
kebiasaan mengeluh adalah puncak gunung.
(Mahameru,2012)
Karena di puncak gunung saya ngerasa sangat kecil. Di situ terlihat
bahwa sebenarnya masalah yang saya alami itu sangat kecil, di luar sana masih banyak
masalah besar yang dialamin orang lain, jadi masak segitu aja ngeluh.
Hehehe.
Lantas setelah turun dari gunung masalah saya selesai? Ya
enggak! hahaha
Tapi ya keluhan dari dalam pikiran akan berkurang,karena dari
situ ada kesadaran baru yang muncul. Logika udah fresh dan siap dipakai.
Cara-cara lain banyak kok, yang penting berenti sejenak
untuk “pause” dari rutinitas itu
perlu lho untuk menghindari munculnya keluhan yang terucap dari diri.
Oke gini sederhananya.
Orang yang kebanyakan ngeluh,
disebabkan karena kurangnya kemampuan menyederhanakan masalahnya.
Kenapa kemampuan menyederhanakan masalahnya berkurang?
Ya karena logikanya lagi belum jalan aja.
Kenapa logika nya belum jalan? Bisa jadi karena belum makan
siang. hahaha
Tidak ada komentar:
Posting Komentar