Minggu, 03 September 2017

Sapu Jagad Gunung 2017: Memaknai Kemerdekaan melalui Kebersihan Alam



Majalah National Geographic mencatat, hasil riset salah satu jurnal science, Indonesia merupakan satu dari beberapa negara penghasil sampah plastik terbanyak di dunia. Bahkan diganjar peringkat dua sedunia untuk penghasil sampah plastik di lautan, setelah Tiongkok.  Data tersebut diperoleh lewat pemodelan dengan memasukkan faktor skala pembangunan ekonomi negara, jumlah rata-rata sampah yang diproduksi, cara pengolahan sampah, serta jumlah populasi yang bermukim di radius 50 km dari garis pantai.

Tidak terkecuali laut, gunung juga tempat yang darurat sampah. Mendaki gunung kian digemari kaum muda. Namun, bersamaan dengan trend itu, ternyata tidak diimbagi dengan budaya buang sampah pada tempatnya.

Berangkat dari budaya ini, saya memutuskan untuk ambil bagian dengan berpartisipasi di acara Sapu Jagad Gunung 2017. Acara ini merupakan hasil kerjasama Trashbag Community dengan AQUA. Dua instansi yang selalu memberi perhatian lebih terhadap kondisi lingkungan. Acara Sapu Jagad Gunung 2017 merupakan aksi pembersihan 17 gunung serentak di Indonesia pada tanggal 17-22 Agustus 2017, diantaranya ada Gunung Batur (Bali),Gunung Ciremai (Jawa Barat), Gunung Salak (Jawa Barat), Gunung Merbabu (Jawa Tengah), Gunung Sindoro (Jawa Tengah), Gunung Lawu (Jawa Tengah), & Gunung Talang (Sumatera Barat).


Gambar 1. Gunung Talang, Sumatera Barat (dok.pribadi)

Gunung Talang yang saya pilih. Selain karena jaraknya yang dekat dengan lokasi bekerja, Gunung Talang merupakan penghasil air bersih utama untuk daerah Kabupaten Solok bahkan didistribusikan sampai ke Kota Padang, jadi ada rasa hutang budi terhadap gunung yang sudah jadi sumber kehidupan untuk saya & teman-teman di Sumatera Barat ini.

Oh iya, sebelumnya saya ingin memperkenalkan Trashbag Community dulu. Trashbag community adalah komunitas yang aktif melakukan pembersihan gunung dan rutin mengkampanyekan slogan bahwa “Gunung Bukan Tempat Sampah”.
 


Gambar 2. Tim Relawan AQUA & Trashbag Community di Basecamp Pendakian (dok.pribadi)

Sabtu,19 Agustus 2017 di tengah pagi berkabutnya Daerah Kayu Aro Sumatera Barat, saya dan tim relawan  AQUA Pabrik Solok, berangkat ke Gunung Talang. Gunung yang menjadi salah satu sasaran aksi kali ini. Sesuai prediksi, rute yang ditempuh untuk pendakian ini didominasi oleh lumpur dan hampir mustahil untuk dilalui. Berdasarkan informasi yang didapat dari penduduk sekitar, rute lumpur ini terjadi tidak seperti hari-hari sebelumnya, karena ditanggal 17-18 Agustus 2017 Gunung Talang diguyur hujan deras ditambah hadirnya ratusan pendaki yang ingin merayakan Hari Kemerdekaan di puncak gunung. Jika digambarkan aksi pendakian yang saya lalui mirip berjalan di sawah dengan kemiringan 30-45 derajat.




Gambar 3. Rute Pendakian Berlumpur (dok.tim relawan)
 
Lelah dan pegal yang merangkul badan terbayarkan dengan senyum sapaan para pendaki. Ini yang selalu saya rindukan dalam setiap kegiatan mendaki gunung. Latar belakang keluarga,suku,agama, dan bahasa tidak menjadi halangan untuk saling berkenalan, bertukar cerita,bahkan bertukar makanan selama perjalanan. Hingga pada akhirnya sekitar dua puluh trashbag besar sampah basah berhasil dikumpulkan untuk dibawa turun.


Gambar 4. Pengumpulan Sampah dan Membawanya Turun Gunung (dok.tim relawan)

Beruntung saat pendakian, saya sempat berkenalan dan berbincang dengan Ragil Budi Wibowo atau akrab disapa Rage, yang merupakan pendiri Trashbag Community. Satu hal penting yang dapat dipelajari dari diskusi dengan Rage adalah kegiatan ini bukan sekedar bertujuan membersihkan sampah di gunung saja, tapi yang lebih penting adalah mengajak dan menanamkan budaya ke para pendaki muda bahwa saat memutuskan untuk mendaki, tidak boleh lupa membawa turun sampahnya. Semakin bersih gunung, semakin besar pula kesempatan anak cucu untuk mempelajari keindahan Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke-nya. Tujuan inilah yang menjadi dasar mengapa Sapu Jagad Gunung 2017 melibatkan banyak organisasi pencinta alam & bahkan didukung perusahaan seperti Danone.

Menurut saya, kegiatan Sapu Jagad Gunung 2017 ini merupakan sebuah aksi yang selaras dengan komitmen Danone bahwa tidak hanya akselarasi bisnis tetapi juga komitmen tinggi untuk memberikan dampak yang posistif bagi kehidupan sosial. Saya percaya, kegiatan ini hanya potongan pendek dari perjalanan panjang Danone termasuk manusia di dalamnya, untuk lebih beraksi nyata terhadap kebersihan lingkungan di Indonesia.  

Salam hangat dari Tanah Sumatera.


Jumat, 17 Maret 2017

Tentang Mikir Simple,Decision Making, & Ian


Sudut Kota Padang, 17 Maret 2017

11 bulan sudah saya tinggal di Solok. Solok,tempat saya berkarya di sebuah perusahaan unik. Belajar banyak di 11 bulan perjalanan ini. Belajar bahwa cara berteman di dunia kerja, berbeda dengan dunia kuliah. Dunia kerja professional, dunia kuliah lebih kekeluargaan. Belajar untuk memandang suatu permasalahan lebih dalam, butuh data, butuh analisis dan action plan yang nyata.

Saya merasa cukup beruntung dan bersyukur karena selama berkarya bertemu dengan para mentor yang sangat paham tentang proses bisnis. Memandang suatu permasalahan dengan cara sederhana namun menganalisanya dengan sangat dalam dalam waktu singkat.

Masih terlintas dengan kata-kata tegas,
“Cerdas, jujur,dan baik hati itu tidak cukup, jaman sekarang kamu juga harus punya speed” 

Melakukan pekerjaan dengan lebih cepat,lebih akurat, karena sumber data sudah bisa diakses dengan real time. Tools decision making semakin berkembang dan tinggal pilih. Ya tinggal dilatih, memakainya tahu tempat.

Entah bener atau engga,

Menurut saya,semakin tinggi posisi orang yang saya temui di perusahaan ini cara mikirnya semakin simple dan akumulasi dari jam terbang decision making menjadikan mereka lebih cepat dalam memaknai solusi.

Solusi.

Solusi pun disampaikan ke tim dengan cara yang membangun, bukan mendikte, tetapi mengajak mikir bareng. Terbiasa mikir bareng, tim semakin jago mecahin masalah.

Ya se-simple itu.

.
.
.
Kalau ngomongin develop team. Tidak pernah terlepas dari masa-masa kuliah. Jaman doyan banget organisasi. 

Saya belajar banyak tentang membangun team,dari partner in crime saya semasa kuliah, Ian.
Ardian Kusprimadi, orang yang menurut saya  jago banget decision making dan bisa membuat tim-nya grow.

Orang yang selalu punya alasan tulus & menarik di setiap perbuatan liciknya.

Pernah suatu hari saya,Ian, dan teman-teman menyewa mobil untuk jalan-jalan ke Kawah Ijen, Jawa Timur. Di tengah jalan, mobil kami kecelakaan. Walaupun dari kami tidak ada yang terluka, bagian depan mobil ringsek. Saat itu yang terpikir hanya harus pulang ke Semarang dengan mobil ringsek, dimarahi orang tua, keluar duit banyak buat memperbaiki mobil. 

Tapi saat itu saya masih ingat, dia membisikan sesuatu ke saya.
“ Wis terlanjur ringsek,mosok balik (sudah terlanjur rusak mosok pulang) , gimana kalo kita lanjut aja ti?, yang penting tugas kita tetap masang muka happy , biar teman2 juga happy. Teman-temen happy, liburan kita tetap seneng walaupun mobil ringsek,dan siap2 dimarahin orang tua mah urusan ntar.”

Gundulmu. 

Pikir saya.

Tapi jika dianalisis,

  1. Kalo saat itu pulang langsung, bisa jadi saya dan teman-teman tidak akan pernah punya waktu lagi untuk ke Kawah Ijen bersama-sama.
  2. Pasang muka happy : senyum itu effortless, tapi impactnya buat orang sekitar luar biasa. Paling nggak saat itu teman-teman saya happy (keliatannya sih.hehe) dengan keputusan melanjutkan perjalanan walau mobil ringsek.                      
  3. Perbaiki mobil bisa kok, lagian kan mobil ini sewa jadi kalo rusak yang butuh dipikirin uang ganti ruginya doang, ngga perlu takut dimarahi orang tua karena yang diringsekin bukan mobil pribadi.
  4. Duit bisa dicari, momen ? Belum tentu dateng 2x 
  5.  Oke Go Ahead 
  6. Akhirnya setelah dibawa ke bengkel sebentar sembari masang muka cengar cengir untuk memotivasi teman2, mobil siap berangkat dan kami jadi sampai ke kawah ijen, bahkan saat itu sempat lanjut ke Pulau Sempu yang luar biasa indahnya itu.
.
.
.
Back to decision making dan mikir simple.

Belajar dari Ian..
  1. Tetap fokus pada tujuan
  2. Pahami peranmu di dalam team 
  3.  Ajak team mikir solusi
  4. Action with less effort but high impact , quickly.

Hahahahahahaaa

Oiya,
Ternyata membangun tim yang baik, ngga butuh hanya motivasi, tapi juga  rasa percaya. Saya nggak akan pernah pergi ke kawah ijen kalo nggak percaya dengan Ian dan teman-teman saat itu.

Thanks guys. Dinamika masa lalu yang sangat terasa gunanya sampai hari ini.

Selasa, 03 Mei 2016

Solok Hari Pertama

Ini hari pertama saya di Solok. Sebuah kabupaten asri di dataran tinggi Sumatera Barat yang airnya sedingin es. Danone Aqua menghantarkan saya sampai di tempat ini. Tidak pernah terlintas di benak saya untuk bekerja di Solok. Lahir di Solo, SMA di Jogja, kuliah di Semarang, dan sekarang giliran Solok yang saya singgahi.

           
                     
                                                                       Sumber:dokumen pribadi
Siang ini, Pak Wan yang diberi tugas Danone Aqua untuk menjemput saya di Bandara Minangkabau Padang, menawarkan untuk makan siang dengan menu rendang belut. Astaga, jika suatu hari saya harus meninggalkan Solok, bisa jadi rendang belut-lah yang paling tidak tega untuk saya tinggalkan.

Ueenak sekali, masakan ini..

Rempah khas ranah minang bercumbu dengan lidah jawa saya siang itu.

            Sesampai di kos, Bu Masni (ibu kos saya) mempersilahkan saya untuk beristirahat, sebelum sorenya jalan kaki di sekitar kos untuk melihat tempat tinggal yang akan menemani paling tidak 4 bulan ke depan. Namun, sambutan ramah Bu Masni berbanding terbalik dengan sambutan listrik di Solok. Belum genap satu malam di sini, pukul 19.30, listrik padam. Gila, pikir saya. Apa setiap malam Solok selalu terjadi pemadaman listrik seperti ini? Signal HP saya sama sekali tidak terlacak. Laptop low batt. Tapi tak apalah. Kalo hanya gelap bukan halangan besar bagi saya untuk beraktivitas. Bahkan tulisan ini saya tulis di bawah temaram sebatang lilin yang saya beli 1 km dari kos.



          Sumber : Dokumen pribadi
Ahh… barangkali ini arahan bagi saya agar segera beristirahat supaya esok segar untuk menjalani Senin pertama di Solok.

Good night.   

Bryansetio

Nb: diketik saat signal kebetulan terbit, menjelang matahari terbenam
                                            Selasa,3 Mei 2016, 18.00 WIB,at Danone Aqua Solok Office.

Rabu, 27 April 2016

Malamnya Jakarta

Lima hari terakhir, saya singgah di kota ini.

Sebuah kota yang tidak pernah tidur.
Sebuah kota yang tidak pernah berhenti belajar.
Sebuah kota yang tidak pernah lengang dari riuhnya kendaraan motor.
Sebuah kota yang tidak pernah sepi pendatang untuk mengadu nasib.
Sebuah kota yang dinamis.
Sebuah kota yang selalu dikutuk oleh penduduknya sendiri saat jam pulang kantor menjelang.
Sebuah kota yang rindu akan sejuknya udara pagi.
Sebuah kota yang anak kecilnya susah melihat bintang karena tertutup oleh gedung-gedung pencakar langitnya.


Sebuah kota yang hanya sementara.


Bryansetio

Senin, 11 April 2016

Masa Kuliah in Review

Fase ini tiba..

Fase di mana saya mendapatkan kebebasan lagi untuk melanjutkan arah hidup ke depan.

Fase yang sangat sadar akan luasnya dunia dengan segala ilmu pengetahuan di dalamnya.

Jika ditarik lima  tahun ke belakang, rasanya merupakan suatu pengalaman yang sangat berharga.

Memperjuangkan kejujuran di tengah kondisi  “tidak jujur” bukanlah hal yang mudah. Apalagi untuk orang yang seperti saya, butuh waktu bahkan sampai 5 tahun untuk bisa  menyelesaikan pendidikan dengan jujur di tengah ketidakjujuran.

Ya..
Wisuda SMA

Lulus dari sebuah SMA di Yogyakarta, yang saat itu bagi saya merupakan sebuah instansi pendidikan yang bagus  dan sangat ideal untuk perkembangan siswa-siswanya, membentuk saya menjadi orang yang sangat idealis. Meletakkan kejujuran di atas segala-galanya.

Masih teringat saat awal masuk kuliah yang mana saya selalu menyalahkan ketidakidealan sistem pendidikan di universitas. Di mana hasil selalu menjadi tolak ukur keberhasilannya.  Di mana ketidakjujuran merupakan hal yang seakan wajar sehari-hari.

Membuat saya bertanya … “Apa sudah saatnya selesai untuk jujur?”

Dan di sini saya belajar.

Dunia nyata yang menyediakan sangat banyak godaan.

Menjadi jujur saja tidak cukup untuk survive.

Jika saja dulu memilih instansi pendidikan yang ideal (lagi) untuk kuliah, yang nyaman untuk belajar, yang dosennya murah hati dalam memberi nilai, yang mudah mendapatkan informasi layanan apapun, bisa jadi tidak akan sekuat sekarang.

Lulus kuliah dengan masih mempertahankan nilai-nilai moral yang diajarkan oleh orang tua dan sekolah-sekolah sebelumnya memiliki arti tersendiri di hati saya.

Sidang Kelulusan Sarjana 

Lulus kuliah dengan masih mempertahankan pesan Ibu untuk menjadi anak yang jujur dan berguna bagi orang-orang sekitar rasanya lebih menarik untuk dilukis pada kanvas kehidupan ini.

Ketidakidealan sistem ini lah yang membuat lebih survive, untuk semakin tertantang.

Ketidakidealan  sistem ini yang memaksa keluar dari rasa nyaman.

Ketidakidealan sistem ini yang mengajarkan berani untuk gagal dan sadar bahwa hidup tidak akan berhenti hanya karena mendapat nilai D saat kuliah.  

Ketidakidealan  sistem membuat saya semakin memaknai hidup, bahwa jujur saja tidak cukup, melainkan harus cerdik disertai kerja keras untuk membuatnya semakin elegan.

#ceilehh
#yokarepmu


Bryansetio

Senin, 07 Maret 2016

Jika Terpaksa harus, Ngeluhlah dengan Asik

Semarang, 6 Maret 2016
Hari Minggu. Siang yang tenang dan lengang di Rumah. Habis baca buku.

Iseng..
Ngecheck medsos.
Lalu mikir

Ini cuplikannya..

Gila ya!
Semua bisa terhubung lewat internet. Internet hadir disusul media sosial seperti Twitter, FB, Path, dan anteknya. Bahkan Hermawan Kartajaya di bukunya yang berjudul WOW Marketing menyebut bahwa  dunia marketing pun tidak ketinggalan berubah path-nya seiring hadirnya internet. Semuanya terhubung. Tidak hanya terhubung yang biasa, tapi terhubung secara instan. Hitungan detik,satu kali ‘klik’, hanya butuh energi yg minim. 

Media sosial membuat sebagian orang jadi mudah membelokkan citra. Bisa sebagai pendongkrak citra, bisa juga terdegradasi citranya melalui media yang satu ini.  

Interaksi yang banyak dan semakin sering dilakukan manusia pada media sosialnya masing-masing, memunculkan aturan-aturan baru dalam berelasi di dunia sosial. 
Tidak hapal undang-undangnya tapi setidaknya tahu etikanya udah bagus banget kok.
So, jaga diri  jika memutuskan untuk berkeluh kesah di medsos.

"Lho,tapi rasanya tuh puas kalo udah numpahin keluh kesah ke medsos"

Lucu. Memangnya hanya itu satu-satunya media agar puas untuk berkeluh kesah. Mengeluh di media sosial justru memperlihatkan betapa butuhnya si pengeluh akan  perhatian. Oke, kalo minta diperhatiin ya ngobrolah sama teman,orang tua atau orang-orang di kiri kanan. 
Oh, atau kalo orang yang ingin diajak bersosialisasi jauh tempatnya, dan tetep mau maksain dengan media sosial daripada telepon,nggak ada salahnya memakai fitur-fitur seperti direct message di Twitter atau Message Facebook, dan lainnya. Setidaknya sebisa mungkin hindari berkeluh kesah tidak pada tempatnya.

Nah itu jika hubungannya dengan orang lain.
Dan kalo terpaksa ingin mengeluh cari cara yang asik lahh buat ngeluh.

Kalau boleh sharing.
Salah satu tempat favorit saya untuk menghilangkan kebiasaan mengeluh adalah puncak gunung.

(Mahameru,2012)

Karena di puncak gunung saya ngerasa sangat kecil. Di situ terlihat bahwa sebenarnya masalah yang saya alami itu sangat kecil, di luar sana masih banyak masalah besar yang dialamin orang lain, jadi masak segitu aja ngeluh.
Hehehe.
Lantas setelah turun dari gunung masalah saya selesai? Ya enggak! hahaha
Tapi ya keluhan dari dalam pikiran akan berkurang,karena dari situ ada kesadaran baru yang muncul. Logika udah fresh dan siap dipakai.
Cara-cara lain banyak kok, yang penting berenti sejenak untuk “pause” dari rutinitas itu perlu lho untuk menghindari munculnya keluhan yang terucap dari diri.

Oke gini sederhananya.
Orang yang kebanyakan ngeluh, disebabkan karena kurangnya kemampuan menyederhanakan masalahnya.
Kenapa kemampuan menyederhanakan masalahnya berkurang?
Ya karena logikanya lagi belum jalan aja.

Kenapa logika nya belum jalan? Bisa jadi karena belum makan siang. hahaha

Selamat makan siang... mari makan.

Rabu, 17 Februari 2016

Integritas yang Seperti Apa?


Sudah hampir 15 menit saya duduk terdiam di depan laptop dengan mata memandang detikan jam. Terkadang pandangan teralihkan ke secangkir Kopi Robusta yang mulai dingin. Tubuh saya di situ. Pikiran saya sedang piknik.

Masih mengingat-ingat,sebulan terakhir ini sedang banyak mendengarkan opini/berita tentang rasa sangsi terhadap integritas. Benar, integritas yang merupakan sebuah nilai yang masih dikejar.

Desember 2015, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan pengumuman daftar Indeks Integritas Sekolah di Indonesia. Bagi saya itu langkah yang sangat baik. Sangat baik? Untuk siapa?
Untuk masa depan kejujuran di Indonesia.

Integritas adalah hasil dari tanggung jawab. Ya, tanggung jawab terhadap sikap/ucapan bahkan pilihan. Menurut saya, seseorang mampu tanggung jawab terhadap pilihannya jika dia sudah mampu jujur pada dirinya sendiri.



Oke, back to topic..
Pemerintah berani memberikan apresiasi terhadap integritas sekolah merupakan hal yang menarik. Out of the box, nggak sih? Selama ini mereka hadir lewat banyak berita pencegahan korupsi yang mulai terdengar fals di telinga. Mencegah, Melarang, Mengadili, tapi entah kenapa kali ini yang menarik perhatian saya saat mereka hadir dengan langkah apresiasi. Kreatif! They have been thinking the other side!

Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah, lalu bagaimana standard penilaianya sampai muncul daftar indeks integritas sekolah? Kemendikbud menggunakan tolak ukur nilai UN untuk mengukur indeksnya. Memang mendikbud mengakui bahwa indeks integritas yang didapatkan dari UN ini tidak bisa mengukur semua aspek integritas, tapi dari sini setidaknya bisa mencerminkan pola kejujuran sekolah ketika melaksanakan ujian.

Kurang puas dengan lansiran tersebut,saya putuskan untuk diskusi dengan seorang kepala sekolah. Berikut hasil diskusinya:

Justru indeks integritas diambil dari selisih antara rata-rata Nilai Rapot Sekolah (NS) dengan Nilai Ujian Nasional (UN). Semakin kecil selisihnya maka integritasnya semakin tinggi.
Logikanya seperti ini :

Sekolah A          :  Rata-rata NS = 90, Rata-rata UN = 92, maka selisihnya adalah 2.
Sekolah B          :  Rata-rata NS = 90, Rata-rata UN = 50, maka selisihnya adalah 40.
Jadi kesimpulanya Sekolah A memiliki tingkat integritas yang lebih baik daripada Sekolah B.


Emmm…masuk akal jika hubungannya dengan integritas nilai yang didapat dari sekolah. Konsistensi terhadap kemampuan sekolah dalam mempertahankan skornya mampu menjadi tolak ukur integritas sekolah tersebut.

“Loh, sekarang gini deh,ambilah sample acak, misal ada sebuah sekolah yang rata-rata NS nya 90, trus rata-rata UN-nya 90, tetapi sekolah tersebut mewajarkan segala cara untuk meraih point 90 nya. Apa yang seperti ini masih bisa disebut sekolah berintegritas?”

Secara skor? Ya!
Secara jujur? Sama sekali tidak!

Lalu solusinya seperti apa? Computer Based Test setiap melakukan ujian di sekolah? Ayolah…come on.. Hacker Indonesia pinter-pinter lho. Atau Ujian dengan 1 pengawas per 1 siswa? Bolehlah, bisa meminimalisir kok walaupun pasti akan terjadi pembengkakan biaya yang banyak untuk memberi honor pengawas yg jumlahnya sama dengan jumlah siswa yang ikut ujian.

Seketat-ketatnya rok mini, masih ada saja mata laki-laki yang jago menerawang isi rok tersebut. Sama halnya seketat-ketatnya aturan pasti selalu ada saja celah yang bisa dilanggar.

Rok Mini

Wah berarti susah juga ya untuk melakukan penilaian tingkat integritas seorang siswa ataupun sekolah?

Susah tidaknya bagi saya tidak penting. Lebih penting adalah usaha untuk memahami tujuan dari integritas dan kerja sama untuk membangun iklim kejujuran. Memang integritas tidak secara instan terbentuk pada diri seseorang. Kalo masih menagih solusi sih sebenarnya cara paling efektif bagi masyarakat untuk membantu pemerintah adalah  pada pendidikan dasar. Pendidikan dasar tidak hanya di TK,tetapi juga “wajib hidup” di keluarga dan lingkungan tempat tinggal.

Mengajarkan Salah Satu Nilai Moral Berbagi

Mengajarkan Bahasa Inggris kepada anak TK itu penting, tetapi bukankah lebih penting untuk mengajarkanya mengantri saat cuci tangan di wastafel umum, bukankah lebih penting untuk mengapresiasinya saat ia mengakui telah mencoret-coret tembok rumah, bukankah lebih penting untuk mengajarkan untuk bilang “maaf” dan “ terima kasih”? Benih-benih integritas akan muncul dan berkembang dari perbuatan-perbuatan kecil ini.

Jika itu diajarkan secara wajib dan teratur oleh manusia dewasa di Indonesia ke anak-anak disekitarnya, tidak hanya nilai indeks sekolah integritas yang akan naik, tetapi juga nilai Corruption Perception Index. Sangat erat hubungan antara integritas dengan korupsi.

Transparency International sebuah lembaga survei tentang tingkat korupsi Negara-negara dunia yang bermarkas di Berlin, telah meluncurkan sebuah Corruption Perception Index setiap tahunnya. Tahun 2015, Indonesia berada di urutan 88 dalam Corruption Perception Index dari 168 negara dan territorial. Memiliki nilai 36 dari skala 100. Skala ini menunjukkan bahwa 0 berarti negara dipersepsikan sangat korup, sementara skor 100 berarti dipersepsikan sangat bersih.




10 Besar CPI 
(Sumber : http://www.transparency.org/cpi2015)






Posisi Indonesia di CPI
(Sumber : http://www.transparency.org/cpi2015)
(Sumber GCI : http://www3.weforum.org/docs/WEF_GlobalCompetitivenessReport_2014-15.pdf )


Goalnya adalah Corruption Perception Index-nya bagus, otomatis nilai Global Competitiveness Index (indeks kompetensi global) juga naik. Hal ini terjadi karena tingkat kompetensi global sebuah negara juga dapat dilihat dari seberapa besar tingkat korupsi di negara tersebut. Semakin dini dan terbiasa siswa mendapatkan apresiasi tentang kejujuran,secara ideal, integritasnya akan naik juga, karena di mindset-nya melakukan tindakan jujur merupakan hal yang bahagia. Saat berbicara masyarakat dengan tingkat integritas kejujuran baik yang terukur lewat indeks-indeks tersebut, mimpi Indonesia untuk memiliki pemimpin "bersih" bukan mustahil akan terwujud. 
Karena integritas diawali dari kejujuran, dan kejujuran adalah investasi jangka panjang yang sangat baik dan potensial bagi sebuah negara.

Bryansetio
.