Senin, 07 Maret 2016

Jika Terpaksa harus, Ngeluhlah dengan Asik

Semarang, 6 Maret 2016
Hari Minggu. Siang yang tenang dan lengang di Rumah. Habis baca buku.

Iseng..
Ngecheck medsos.
Lalu mikir

Ini cuplikannya..

Gila ya!
Semua bisa terhubung lewat internet. Internet hadir disusul media sosial seperti Twitter, FB, Path, dan anteknya. Bahkan Hermawan Kartajaya di bukunya yang berjudul WOW Marketing menyebut bahwa  dunia marketing pun tidak ketinggalan berubah path-nya seiring hadirnya internet. Semuanya terhubung. Tidak hanya terhubung yang biasa, tapi terhubung secara instan. Hitungan detik,satu kali ‘klik’, hanya butuh energi yg minim. 

Media sosial membuat sebagian orang jadi mudah membelokkan citra. Bisa sebagai pendongkrak citra, bisa juga terdegradasi citranya melalui media yang satu ini.  

Interaksi yang banyak dan semakin sering dilakukan manusia pada media sosialnya masing-masing, memunculkan aturan-aturan baru dalam berelasi di dunia sosial. 
Tidak hapal undang-undangnya tapi setidaknya tahu etikanya udah bagus banget kok.
So, jaga diri  jika memutuskan untuk berkeluh kesah di medsos.

"Lho,tapi rasanya tuh puas kalo udah numpahin keluh kesah ke medsos"

Lucu. Memangnya hanya itu satu-satunya media agar puas untuk berkeluh kesah. Mengeluh di media sosial justru memperlihatkan betapa butuhnya si pengeluh akan  perhatian. Oke, kalo minta diperhatiin ya ngobrolah sama teman,orang tua atau orang-orang di kiri kanan. 
Oh, atau kalo orang yang ingin diajak bersosialisasi jauh tempatnya, dan tetep mau maksain dengan media sosial daripada telepon,nggak ada salahnya memakai fitur-fitur seperti direct message di Twitter atau Message Facebook, dan lainnya. Setidaknya sebisa mungkin hindari berkeluh kesah tidak pada tempatnya.

Nah itu jika hubungannya dengan orang lain.
Dan kalo terpaksa ingin mengeluh cari cara yang asik lahh buat ngeluh.

Kalau boleh sharing.
Salah satu tempat favorit saya untuk menghilangkan kebiasaan mengeluh adalah puncak gunung.

(Mahameru,2012)

Karena di puncak gunung saya ngerasa sangat kecil. Di situ terlihat bahwa sebenarnya masalah yang saya alami itu sangat kecil, di luar sana masih banyak masalah besar yang dialamin orang lain, jadi masak segitu aja ngeluh.
Hehehe.
Lantas setelah turun dari gunung masalah saya selesai? Ya enggak! hahaha
Tapi ya keluhan dari dalam pikiran akan berkurang,karena dari situ ada kesadaran baru yang muncul. Logika udah fresh dan siap dipakai.
Cara-cara lain banyak kok, yang penting berenti sejenak untuk “pause” dari rutinitas itu perlu lho untuk menghindari munculnya keluhan yang terucap dari diri.

Oke gini sederhananya.
Orang yang kebanyakan ngeluh, disebabkan karena kurangnya kemampuan menyederhanakan masalahnya.
Kenapa kemampuan menyederhanakan masalahnya berkurang?
Ya karena logikanya lagi belum jalan aja.

Kenapa logika nya belum jalan? Bisa jadi karena belum makan siang. hahaha

Selamat makan siang... mari makan.

Rabu, 17 Februari 2016

Integritas yang Seperti Apa?


Sudah hampir 15 menit saya duduk terdiam di depan laptop dengan mata memandang detikan jam. Terkadang pandangan teralihkan ke secangkir Kopi Robusta yang mulai dingin. Tubuh saya di situ. Pikiran saya sedang piknik.

Masih mengingat-ingat,sebulan terakhir ini sedang banyak mendengarkan opini/berita tentang rasa sangsi terhadap integritas. Benar, integritas yang merupakan sebuah nilai yang masih dikejar.

Desember 2015, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan pengumuman daftar Indeks Integritas Sekolah di Indonesia. Bagi saya itu langkah yang sangat baik. Sangat baik? Untuk siapa?
Untuk masa depan kejujuran di Indonesia.

Integritas adalah hasil dari tanggung jawab. Ya, tanggung jawab terhadap sikap/ucapan bahkan pilihan. Menurut saya, seseorang mampu tanggung jawab terhadap pilihannya jika dia sudah mampu jujur pada dirinya sendiri.



Oke, back to topic..
Pemerintah berani memberikan apresiasi terhadap integritas sekolah merupakan hal yang menarik. Out of the box, nggak sih? Selama ini mereka hadir lewat banyak berita pencegahan korupsi yang mulai terdengar fals di telinga. Mencegah, Melarang, Mengadili, tapi entah kenapa kali ini yang menarik perhatian saya saat mereka hadir dengan langkah apresiasi. Kreatif! They have been thinking the other side!

Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah, lalu bagaimana standard penilaianya sampai muncul daftar indeks integritas sekolah? Kemendikbud menggunakan tolak ukur nilai UN untuk mengukur indeksnya. Memang mendikbud mengakui bahwa indeks integritas yang didapatkan dari UN ini tidak bisa mengukur semua aspek integritas, tapi dari sini setidaknya bisa mencerminkan pola kejujuran sekolah ketika melaksanakan ujian.

Kurang puas dengan lansiran tersebut,saya putuskan untuk diskusi dengan seorang kepala sekolah. Berikut hasil diskusinya:

Justru indeks integritas diambil dari selisih antara rata-rata Nilai Rapot Sekolah (NS) dengan Nilai Ujian Nasional (UN). Semakin kecil selisihnya maka integritasnya semakin tinggi.
Logikanya seperti ini :

Sekolah A          :  Rata-rata NS = 90, Rata-rata UN = 92, maka selisihnya adalah 2.
Sekolah B          :  Rata-rata NS = 90, Rata-rata UN = 50, maka selisihnya adalah 40.
Jadi kesimpulanya Sekolah A memiliki tingkat integritas yang lebih baik daripada Sekolah B.


Emmm…masuk akal jika hubungannya dengan integritas nilai yang didapat dari sekolah. Konsistensi terhadap kemampuan sekolah dalam mempertahankan skornya mampu menjadi tolak ukur integritas sekolah tersebut.

“Loh, sekarang gini deh,ambilah sample acak, misal ada sebuah sekolah yang rata-rata NS nya 90, trus rata-rata UN-nya 90, tetapi sekolah tersebut mewajarkan segala cara untuk meraih point 90 nya. Apa yang seperti ini masih bisa disebut sekolah berintegritas?”

Secara skor? Ya!
Secara jujur? Sama sekali tidak!

Lalu solusinya seperti apa? Computer Based Test setiap melakukan ujian di sekolah? Ayolah…come on.. Hacker Indonesia pinter-pinter lho. Atau Ujian dengan 1 pengawas per 1 siswa? Bolehlah, bisa meminimalisir kok walaupun pasti akan terjadi pembengkakan biaya yang banyak untuk memberi honor pengawas yg jumlahnya sama dengan jumlah siswa yang ikut ujian.

Seketat-ketatnya rok mini, masih ada saja mata laki-laki yang jago menerawang isi rok tersebut. Sama halnya seketat-ketatnya aturan pasti selalu ada saja celah yang bisa dilanggar.

Rok Mini

Wah berarti susah juga ya untuk melakukan penilaian tingkat integritas seorang siswa ataupun sekolah?

Susah tidaknya bagi saya tidak penting. Lebih penting adalah usaha untuk memahami tujuan dari integritas dan kerja sama untuk membangun iklim kejujuran. Memang integritas tidak secara instan terbentuk pada diri seseorang. Kalo masih menagih solusi sih sebenarnya cara paling efektif bagi masyarakat untuk membantu pemerintah adalah  pada pendidikan dasar. Pendidikan dasar tidak hanya di TK,tetapi juga “wajib hidup” di keluarga dan lingkungan tempat tinggal.

Mengajarkan Salah Satu Nilai Moral Berbagi

Mengajarkan Bahasa Inggris kepada anak TK itu penting, tetapi bukankah lebih penting untuk mengajarkanya mengantri saat cuci tangan di wastafel umum, bukankah lebih penting untuk mengapresiasinya saat ia mengakui telah mencoret-coret tembok rumah, bukankah lebih penting untuk mengajarkan untuk bilang “maaf” dan “ terima kasih”? Benih-benih integritas akan muncul dan berkembang dari perbuatan-perbuatan kecil ini.

Jika itu diajarkan secara wajib dan teratur oleh manusia dewasa di Indonesia ke anak-anak disekitarnya, tidak hanya nilai indeks sekolah integritas yang akan naik, tetapi juga nilai Corruption Perception Index. Sangat erat hubungan antara integritas dengan korupsi.

Transparency International sebuah lembaga survei tentang tingkat korupsi Negara-negara dunia yang bermarkas di Berlin, telah meluncurkan sebuah Corruption Perception Index setiap tahunnya. Tahun 2015, Indonesia berada di urutan 88 dalam Corruption Perception Index dari 168 negara dan territorial. Memiliki nilai 36 dari skala 100. Skala ini menunjukkan bahwa 0 berarti negara dipersepsikan sangat korup, sementara skor 100 berarti dipersepsikan sangat bersih.




10 Besar CPI 
(Sumber : http://www.transparency.org/cpi2015)






Posisi Indonesia di CPI
(Sumber : http://www.transparency.org/cpi2015)
(Sumber GCI : http://www3.weforum.org/docs/WEF_GlobalCompetitivenessReport_2014-15.pdf )


Goalnya adalah Corruption Perception Index-nya bagus, otomatis nilai Global Competitiveness Index (indeks kompetensi global) juga naik. Hal ini terjadi karena tingkat kompetensi global sebuah negara juga dapat dilihat dari seberapa besar tingkat korupsi di negara tersebut. Semakin dini dan terbiasa siswa mendapatkan apresiasi tentang kejujuran,secara ideal, integritasnya akan naik juga, karena di mindset-nya melakukan tindakan jujur merupakan hal yang bahagia. Saat berbicara masyarakat dengan tingkat integritas kejujuran baik yang terukur lewat indeks-indeks tersebut, mimpi Indonesia untuk memiliki pemimpin "bersih" bukan mustahil akan terwujud. 
Karena integritas diawali dari kejujuran, dan kejujuran adalah investasi jangka panjang yang sangat baik dan potensial bagi sebuah negara.

Bryansetio
.     

 

       

Minggu, 29 November 2015

Spesial untuk Umur Satu Tahun

Kebetulan teman-teman kontrakan sudah tidur ya menulislah yang sering jadi jembatan saya untuk refleksi buah pikir.

Bicara mengenai spesial, ada sebuah cerita. Cerita tentang seseorang yang spesial dan membuat banyak belajar darinya. Manusia lahir ke dunia ini dengan karakter dan kondisinya masing-masing. Alangkah kreatif penciptanya sehingga membuat mereka manusia berbeda satu sama lain.

Manusia terdoktrin sebagai makhluk yang cerdas sehingga mereka mampu menciptakan faham dan kebiasaanya sendiri. Kebiasaan yang cenderung malah membuat mereka tampak sama,padahal awalnya diciptakan berbeda. Kecenderungan untuk berusaha mencapai tingkat kehidupan yang lebih sejahtera. Bahkan dekade ini hadir dengan membawa berbagai macam media sosial yang membuat manusia memiliki “tambahan visi” agar ingin dilihat orang lain. Lagi-lagi cenderung mengejar kesamaan.

            Uniknya beberapa waktu yang lalu saya tertarik dan memilih untuk mengenal sudut pandang spesial yang melekat pada diri seseorang. Sudut pandang yang sering berbeda. Ya. Aneh! Tapi menyenangkan sekali bertemu manusia semacam itu.  Dia banyak belajar dari apapun,dari siapa pun, dan di manapun. Saya adalah orang yang banyak bicara dan dia banyak mendengarkan. Saat banyak mencari,dia perbanyak memberi.

Lalu dia apa? Bukan Manusia? Tidak, bukan seperti itu maksudnya. Tidak pernah menganggap dia seperti manusia pada umumnya. Kenapa? Karena dia berbeda. Tidak umum. Jauh dari kata umum. Tapi sangat dekat dengan kata biasa. Dia adalah manusia biasa. Sangat biasa, sangat sederhana, dan saya memanggilnya enggar.
Happy Anniversary.



Bryansetio

Rabu, 25 November 2015

Darimu Guru

Lagi-lagi curi waktu di sela mengerjakan tugas akhir sarjana saya. Karena ini adalah Hari Guru, teringat tentang guru-guru yang pernah mengajarkan  banyak hal mengesankan yang masih saya ingat sampai detik ini.

Guru itu apa sih? Guru adalah manusia yang punya tanggung jawab untuk mengajarkan ilmu yang dimilikinya ke orang lain. Jadi secara langsung kualitas suatu sumber daya manusia banyak dipengaruhi oleh kualitas pendidikan yang dialaminya. Dan guru jelas jadi manusia di garda depan pendidikan yang berhubungan langsung dengan murid yang diajarnya.

Apa guru itu hanya mengajarkan matematika, fisika, sosiologi? Kalau mengajarkan cara masak? Mengajarkan caraku mencintaimu? Halah.

Tentunya ada batas yang jelas di sini. Saat seseorang mengajarkan ilmu nya ke orang lain, beliau layak disebut guru. Perkara mengajarkannya secara tulus atau hanya mengejar tunjangan sertifikasi guru, bisa dilihat dari kualitas anak didiknya,kok.

Saya punya banyak kenangan yang berkesan saat berhubungan dengan guru-guru. Guru Matematika  SMP saya,  Pak Sarno. Sosok lugu, tinggi, yang sering saya lihat turun dari bus kota dengan baju safari-nya. Kenapa Pak Sarno berkesan?  Pak Sarno adalah guru matematika kelas 3 SMP saya. Guru yang terakhir kali  pernah memberi nilai 100 saat ulangan matematika. Ini sangat berkesan, karena memang bagi saya dari dulu sampai sekarang sangat jarang mendapat nilai 100. Bahkan saking jarangnya, masih ingat kapan terakhir kali nilai 100 didapat.

Oke lah, itu singkat tentang pengajaran Pak Sarno.   

Guru berikutnya yang sangat berkesan adalah Bu Yanik dan Pak Bambang. Beliau-beliau ini merangkap job desk sekaligus sebagai orang tua saya. Kebetulan bapak ibu saya adalah pengajar. Ibu adalah seorang guru SMA, dan Bapak berprofesi sebagai seorang instruktur mesin. Jadi ya hobinya sharing ilmu.

Ibu dengan seragam guru-nya

Kalau bisa dibilang, Ibu adalah guru yang tidak pernah menuntut saya untuk menjadi orang yang pintar. Di lain sisi, Ibu hanya minta tolong agar putra putrinya jadi manusia yang jujur dan berguna untuk lingkungan sekitarnya. Karena memang menurut prinsip hidup beliau, someday kejujuran akan jadi salah satu skill yang "mahal". Sebab tidak banyak orang yang memilikinya. 

Begitu pula dengan bapak. Bapak adalah guru yang sering mengajarkan tentang arti kepemimpinan. Di benaknya yang namanya pemimpin harus terus belajar. Tidak boleh berhenti. Banyak baca, cari mentor-mentor yang baik untuk saling berbagi ilmu.
   
Bapak

Seakan dari dulu Bapak Ibu ingin menyampaikan “You can do it! dan Hadapi!” ke murid-muridnya dengan berbagai cara . Serta menawarkan kemewahan berupa tantangan dan kerendah hatian untuk terus berbagi.

Selamat Hari Guru, Pak, Bu. Terima kasih selalu.



Bryansetio.

Senin, 09 November 2015

Tujuan Baik

Jika tujuannya baik dan bermanfaat buat orang lain, pasti selalu ada jalannya.
Ada beberapa pertanyaan, yang sering terlintas di pikiran. Tentang “mau ngapain setelah ini?” “mau seperti apa nantinya”

Pertanyaan yang selalu terlintas menjelang akhir dari suatu apapun. Pertanyaan yang sering terlintas saat berada di persimpangan penting dalam hidup. Penuh analisis jelas penting, tapi jika terlalu lama analisis ,terlambat pun datang. Kesempatan bisa jadi hilang. Kalau ada kesempatan kedua pun kemungkinan besar datangnya tidak semudah kesempatan pertama.

Banyak baca dan banyak teman akan sangat membantu. Buku, Koran, dan sekarang ada internet jelas-jelas menyediakan tidak hanya sekedar informasi tapi juga pengetahuan. Teman hadir sebagai mentor yang tidak selalu memberi solusi tetapi setidaknya selalu siap jadi pendengar yang baik. Dua unsur yang saling melengkapi di setiap pengambilan keputusan.


Keputusan sudah diambil. Selanjutnya tinggal memohon berkat dan kelancaran jalan. Jika prosesnya benar , tujuannya baik, dan bermanfaat buat orang lain, pasti dilancarkan. 


Bryansetio.

Selasa, 03 November 2015

Too Much Love Will Kill You



“.. Just as sure as none at all.
It'll drain the power that's in you
Make you plead and scream and crawl
And the pain will make you crazy
You're the victim of your crime
Too much love will kill you every time…”

Pernah dengar penggalan lirik ini?

Brian May gitaris band Queen, komposer Frank Musker, dan Elizabeth Lamers punya andil besar dalam terciptanya lagu ini. Ya! Too Much Love Will Kill You dibawakan Queen pada tahun 1988, dan meninggalnya sang vokalis Freddie Mercury tahun 1991 seakan bercerita mengenai lagu ini.

sumber : darksoul.wikia.com                                                      
Queen 

Entah kenapa mendengar lagu ini, di imajinasi saya ada seorang Freddie Mercury sedang bernyanyi bertelanjang dada dengan gerak tubuh enerjiknya  di atas panggung. Diiringi suara piano dan lead guitar Brian May,  permainan bass serta drum dari Deacon dan Taylor. Lengkap! Seakan ingin menyampaikan sebuah pesan tentang rasanya menjadi manusia terkenal. Menjadi manusia yang dicintai banyak manusia lain. Menjadi manusia yang dekat dengan gemerlapnya dunia.

sumber : mindtalk.com                                                        
                                                     

Ada saat di mana seseorang menjadi banyak dikenal oleh orang lain. Banyak orang yang mencintainya. Entah karena karir, pesona, atau karisma. Respon terhadap sanjungan, pujian, dan cinta yang membedakan satu dengan yang lain.

“…Too much love will kill you
If you can't make up your mind..”


Penguasaan diri akan rendah hati punya andil besar. Larut dalam asiknya sanjungan,pujian, dan cinta tidak akan menambah nilai. Pada akhirnya justu sanjungan, pujian, dan cinta itu yang akan membunuhnya perlahan.


Bryansetio 

Jumat, 04 September 2015

Tentang Sebuah Kebebasan Berekspresi

Momen ini sudah lewat dua minggu lalu bertepatan dengan ulang tahun Indonesia dan SMA saya tercinta.

Berawal dari perbincangan ringan dengan seorang sepupu. Mas Ronny, begitu saya memanggilnya. Saat itu dia sedang pulang kantor dan melepas penat sejenak lewat bermain dengan putri semata wayangnya, Arli.  Arli sosok bocah menggemaskan yang hobinya lari dan menggambar itu meminta sesuatu ke Bapaknya. Lalu dengan gesit si Bapak menyodorkan sebuah bolpen dan kertas untuk media “dicorat-coret” Arli.

“Kalau nggak gini, dia bakal nyoret-nyoret tembok dek,” celetuk Mas Ronny ke saya,sambil menunjuk bagian sudut rumahnya yang penuh coretan bolpen.

.....................................

Tiba-tiba saya teringat kejadian satu dekade yang lalu. Pada waktu itu saat masih duduk  di bangku SMA kelas 10. Kami sekelas dihukum lari keliling lapangan sambil bertelanjang dada akibat melakukan aksi vandalisme di meja sekolah. Meja dengan penuh coretan tipe-x terlihat sangat mencolok mata. Kotor sana sini. Masih teringat raut wajah guru yang pada waktu itu marah besar melakukan introgasi kepada kami atas tindakan yang diperbuat.

Konyol rasanya jika diingat-ingat.

Sekolah saya sudah dengan senang hati memberikan temboknya untuk dicorat-coret setiap tanggal 17 Agustus oleh para murid. Ya, Sekolah memang sangat menentang aksi  corat-coret yang tidak pada tempat nya , namun di sisi lain, tidak hanya menentang, mereka juga menghadirkan solusi kepada kami untuk berekspresi corat-coret di beberapa tembok-tembok yang memang “legal” untuk dicorat-coret. Jadi memang saat itu wajar saja jika guru saya marah bukan kepalang, karena kami bermain tidak pada tempatnya.

Ekspresi itu butuh ruang...

Tapi tidak di ruang yang ilegal seperti yang saya lakukan dengan teman-teman lewat vandalisme pada waktu kelas 10 SMA dulu.
Tapi tidak di ruang yang ilegal seperti yang dilakukan pendaki "alay" yang mencoret-coret batuan di puncak gunung.
Tapi tidak di ruang yang ilegal seperti yang dilakukan penumpang yang mencoret-coret kursi di fasilitas umum.

Ekspresi itu butuh wadah....

Wadah yang tepat sebagai pemacu kreativitas, seperti yang diberikan Mas Ronny ke putri kecilnya.

Menurut segi pandang saya, saat seseorang tumbuh dewasa dengan karakter temperamental atau mudah terbawa emosi, bisa jadi karena dulu semasa jadi pelajar kurang punya ruang/wadah bebas berekspresi yang tepat. Bisa-bisa orang-orang sekitar yang kena dampaknya akibat salah berekspresi.
Sebab ekspresi merupakan bagian dari luapan kebebasan manusia yang dibatasi oleh kebebasan manusia yang lain.

Salam hangat.
Selamat berekspresi pada tempatnya.





Bryansetio

Senin, 31 Agustus 2015

“Hot, One of The Best English Group Led Zeppelin”

Judul di atas merupakan perspektif saya saat mendengar CD yang sudah berulang kali diputar di gawai. Dentuman alat musik hasil kolaborasi Page, Plant, Jones, dan Bonham serasa akrab di telinga saya dua tahun belakangan ini. Benar, Led Zeppelin. Bisa dibilang Band Inggris 70-an tersebut adalah salah satu grup yang paling berpengaruh di dunia hard rock. Bahkan VH 1 mengganjarnya sebagai urutan pertama hard rock band yang paling berpengaruh di beberapa dekade terakhir.

                                                                                                                      foto: assets.rollingstone.com
Led Zeppelin

Berawal dari keempat personil yang tadinya sudah punya jam terbang tinggi di panggung musik.Gitaris  Jimmy Page, saat itu bermain bersama The Yardbirds, band yang membesarkan nama sekelas Eric Clapton dan Jeff Beck. The Yardbirds  merupakan salah satu band dengan jadwal tersibuk di Britania Raya saat itu.

                                                                                                                           foto: innocent words.com
Jimmy Page


Begitu juga John Paul Jones yang sukses sebagai arranger rekaman Donovan dan The Rolling Stones. Perlu diketahui tidak hanya bass, John Paul Jones juga ahli memainkan Hammond-organ serta piano. 

                                                                                                             foto: superhypeblog.com
John Paul Jones


Mereka berdua mengajak drummer yang pada waktu itu sering mengiringi Tim Rose’s touring band, John Bonham. Bonham sering tampil tanpa menggunakan microphone saat di panggung. Dia beralasan bahwa dapat menggebuk drum set-nya lebih kencang melebihi  drum set with microphone. Memang unik musisi yang satu ini. 

                                                                                                                         foto: www.drummagazine.com
John Bonham

Terakhir, mereka sepakat menggaet Robert Plant yang sudah terkenal sebagai “one of England’s outstanding young blues singers.”

                                                                                                                                         foto:imstars.com
Robert Plant

Tahun 1968 adalah tour pertama Led Zeppelin di Amerika. Press release issue saat itu menyebut band ini kelak akan menyamai kesuksesan Jimi Hendrix maupun Cream sekalipun. Tidak heran dalam setiap konser tur-nya tiket selalu habis terjual. Tahun 1970, mereka meluncurkan dua album Led Zeppelin I dan Led Zeppelin II, yang nantinya akan menjadi tulang fundamental dari hard rock dan heavy metal untuk empat dekade setelahnya.



                                                               foto: assets.rollingstone.com

“Stairway to Heaven” adalah salah satu karya Led Zeppelin yang saya suka. Lagu dengan durasi delapan menit yang berisi lirik sinis, dan Led Zeppelin berhasil membawakannya dengan khas.  Karya ini bercerita tentang sebuah sindiran untuk wanita yang mampu mendapatkan apapun yang dia inginkan sepanjang waktu tanpa berpikir panjang.
25 September 1980,kesedihan menghampiri Led Zeppelin saat mereka harus rela kehilangan drummernya, John Bonham yang ditemukan meninggal di rumah Jimmy Page akibat kecanduan alkohol. Semenjak saat itu mereka memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan Led Zeppelin.

Led Zeppelin tetaplah Led Zeppelin. 

Keputusan tidak melanjutkan Led Zeppelin menurut saya sangat terhormat. Page, Plant, dan Jones ingin memberi apresiasi kepada drummernya,Bonham. Seakan ingin berkata , “Led Zeppelin tidak akan lanjut tanpa kamu di bangku drum-mu.”

Led Zeppelin tetaplah Led Zeppelin. 

Mereka tetaplah sekawanan musisi asik dan penuh karisma. Membuat saya merasa beruntung dan bersyukur masih bisa menikmati karyanya sampai sekarang.


                                                                                                                      foto: assets.rollingstone.com

The band is gone. The thrill is not.

Bryansetio

Selasa, 25 Agustus 2015

Siang itu di Kerinci

Telah diputuskan, Kamis 13 Agustus 2015 sebagai awal dari perjalanan ke Padang. Nantinya selama sepuluh hari ke depan akan menjadi perjalanan pertama kali dalam menapaki alam Pulau Sumatera.


 Selama ini, hanya masakannya yang sudah sering saya makan. Sudah tidak asing lagi dengan istilah rendang, dendeng, atau ayam pop. Namun hanya sebatas makanan saja.  Padang, menjadi kota pertama di Sumatera yang saya tapaki. Petualangan ke Sumatera pada kali ini memiliki destinasi utama yaitu mengunjungi Taman Nasional Kerinci Seblat.

                                            foto: dokumentasi pribadi

Kerinci merupakan salah satu kabupaten di perbatasan Jambi dengan Padang, yang memiliki puncak tertinggi 3805 mdpl  di Gunung Kerinci. Dari bandara Minangkabau Padang, masih ditempuh 8jam perjalanan menggunakan Travel ke Desa Kersik Tuo, Kecamatan Gunung Tujuh , Kabupaten Kerinci.

                                            foto: dokumentasi pribadi

Ah, rasanya tidak perlu saya ceritakan bagaimana indahnya alam Kerinci. Pasti Path, Instagram, Facebook dan media sosial lainnya di bulan Agustus ini sudah penuh dengan posting tentang eloknya pemandangan gunung-gunung di Indonesia.
Maraknya pendakian di Hari Kemerdekaan sudah menjadi acara tahunan di puncak-puncak tertinggi nusantara.
Namun kali ini saya ingin memberikan segi pandang lain dari perayaan hari kemerdekaan di Puncak Gunung. Permasalahan klasik yang tidak kunjung usai, yaitu tentang sampah.

                                           foto: dokumentasi pribadi

                                            foto: dokumentasi pribadi

Oke, silahkan mau menyebut dirinya pecinta alam, atau sekedar pendaki gunung itu rasanya lebih tepat . Disamping semua itu sampah masih saja banyak digeletakkan di puncak ataupun lereng gunung. Salut, kepada teman-teman yang sudah memperlakukan sampahnya dengan baik saat mendaki.

Ada beberapa tips tentang pengendalian sampah, hasil diskusi saya dengan teman-teman yang sudah sering mendaki gunung namun belum mau disebut pecinta alam:

1.   Saat mendaki, bawa trashbag (kantong sampah) untuk membawa turun sampah sisa pendakian.
Bawa turun buang pada tempatnya, dan sebisa mungkin tidak dibakar.

                           foto:komunitas gimbal

2.  Jika teman-teman pendaki memiliki sampah yang dapat terurai saat mendaki, seperti sayuran, makanan basah, sisa buah, dan merasa berat saat hendak membawanya turun, tidak ada salahnya menguburnya dengan tanah di sekitar tempat berkemah.
Karena logikanya, sisa-sisa sayuran,buah, atau sampah lain yang mudah terurai, jika dipendam akan menjadi humus.
Ingat, ini hanya berlaku untuk sampah organik lho.

3.  Ingatkan dan beri solusi pendaki-pendaki lain yang membuang sampah sembarangan.

4.  Saat mendaki, bawa perlengkapan se-efisien mungkin, tidak perlu membawa barang-barang yang berlebihan seperti boneka,mantel bulu,atau atribut-atribut lain yang memakan tempat di tas carrier.


Saya pribadi bangga melihat teman-teman yang sudah berani mendaki puncak-puncak tertinggi Nusantara, dan merasa sangat berterimakasih kepada yang penuh tanggung jawab membawa sampahnya turun untuk dibuang pada tempatnya.


Salam hangat.
Bryansetio