Selasa, 03 Mei 2016

Solok Hari Pertama

Ini hari pertama saya di Solok. Sebuah kabupaten asri di dataran tinggi Sumatera Barat yang airnya sedingin es. Danone Aqua menghantarkan saya sampai di tempat ini. Tidak pernah terlintas di benak saya untuk bekerja di Solok. Lahir di Solo, SMA di Jogja, kuliah di Semarang, dan sekarang giliran Solok yang saya singgahi.

           
                     
                                                                       Sumber:dokumen pribadi
Siang ini, Pak Wan yang diberi tugas Danone Aqua untuk menjemput saya di Bandara Minangkabau Padang, menawarkan untuk makan siang dengan menu rendang belut. Astaga, jika suatu hari saya harus meninggalkan Solok, bisa jadi rendang belut-lah yang paling tidak tega untuk saya tinggalkan.

Ueenak sekali, masakan ini..

Rempah khas ranah minang bercumbu dengan lidah jawa saya siang itu.

            Sesampai di kos, Bu Masni (ibu kos saya) mempersilahkan saya untuk beristirahat, sebelum sorenya jalan kaki di sekitar kos untuk melihat tempat tinggal yang akan menemani paling tidak 4 bulan ke depan. Namun, sambutan ramah Bu Masni berbanding terbalik dengan sambutan listrik di Solok. Belum genap satu malam di sini, pukul 19.30, listrik padam. Gila, pikir saya. Apa setiap malam Solok selalu terjadi pemadaman listrik seperti ini? Signal HP saya sama sekali tidak terlacak. Laptop low batt. Tapi tak apalah. Kalo hanya gelap bukan halangan besar bagi saya untuk beraktivitas. Bahkan tulisan ini saya tulis di bawah temaram sebatang lilin yang saya beli 1 km dari kos.



          Sumber : Dokumen pribadi
Ahh… barangkali ini arahan bagi saya agar segera beristirahat supaya esok segar untuk menjalani Senin pertama di Solok.

Good night.   

Bryansetio

Nb: diketik saat signal kebetulan terbit, menjelang matahari terbenam
                                            Selasa,3 Mei 2016, 18.00 WIB,at Danone Aqua Solok Office.

Rabu, 27 April 2016

Malamnya Jakarta

Lima hari terakhir, saya singgah di kota ini.

Sebuah kota yang tidak pernah tidur.
Sebuah kota yang tidak pernah berhenti belajar.
Sebuah kota yang tidak pernah lengang dari riuhnya kendaraan motor.
Sebuah kota yang tidak pernah sepi pendatang untuk mengadu nasib.
Sebuah kota yang dinamis.
Sebuah kota yang selalu dikutuk oleh penduduknya sendiri saat jam pulang kantor menjelang.
Sebuah kota yang rindu akan sejuknya udara pagi.
Sebuah kota yang anak kecilnya susah melihat bintang karena tertutup oleh gedung-gedung pencakar langitnya.


Sebuah kota yang hanya sementara.


Bryansetio

Senin, 11 April 2016

Masa Kuliah in Review

Fase ini tiba..

Fase di mana saya mendapatkan kebebasan lagi untuk melanjutkan arah hidup ke depan.

Fase yang sangat sadar akan luasnya dunia dengan segala ilmu pengetahuan di dalamnya.

Jika ditarik lima  tahun ke belakang, rasanya merupakan suatu pengalaman yang sangat berharga.

Memperjuangkan kejujuran di tengah kondisi  “tidak jujur” bukanlah hal yang mudah. Apalagi untuk orang yang seperti saya, butuh waktu bahkan sampai 5 tahun untuk bisa  menyelesaikan pendidikan dengan jujur di tengah ketidakjujuran.

Ya..
Wisuda SMA

Lulus dari sebuah SMA di Yogyakarta, yang saat itu bagi saya merupakan sebuah instansi pendidikan yang bagus  dan sangat ideal untuk perkembangan siswa-siswanya, membentuk saya menjadi orang yang sangat idealis. Meletakkan kejujuran di atas segala-galanya.

Masih teringat saat awal masuk kuliah yang mana saya selalu menyalahkan ketidakidealan sistem pendidikan di universitas. Di mana hasil selalu menjadi tolak ukur keberhasilannya.  Di mana ketidakjujuran merupakan hal yang seakan wajar sehari-hari.

Membuat saya bertanya … “Apa sudah saatnya selesai untuk jujur?”

Dan di sini saya belajar.

Dunia nyata yang menyediakan sangat banyak godaan.

Menjadi jujur saja tidak cukup untuk survive.

Jika saja dulu memilih instansi pendidikan yang ideal (lagi) untuk kuliah, yang nyaman untuk belajar, yang dosennya murah hati dalam memberi nilai, yang mudah mendapatkan informasi layanan apapun, bisa jadi tidak akan sekuat sekarang.

Lulus kuliah dengan masih mempertahankan nilai-nilai moral yang diajarkan oleh orang tua dan sekolah-sekolah sebelumnya memiliki arti tersendiri di hati saya.

Sidang Kelulusan Sarjana 

Lulus kuliah dengan masih mempertahankan pesan Ibu untuk menjadi anak yang jujur dan berguna bagi orang-orang sekitar rasanya lebih menarik untuk dilukis pada kanvas kehidupan ini.

Ketidakidealan sistem ini lah yang membuat lebih survive, untuk semakin tertantang.

Ketidakidealan  sistem ini yang memaksa keluar dari rasa nyaman.

Ketidakidealan sistem ini yang mengajarkan berani untuk gagal dan sadar bahwa hidup tidak akan berhenti hanya karena mendapat nilai D saat kuliah.  

Ketidakidealan  sistem membuat saya semakin memaknai hidup, bahwa jujur saja tidak cukup, melainkan harus cerdik disertai kerja keras untuk membuatnya semakin elegan.

#ceilehh
#yokarepmu


Bryansetio

Senin, 07 Maret 2016

Jika Terpaksa harus, Ngeluhlah dengan Asik

Semarang, 6 Maret 2016
Hari Minggu. Siang yang tenang dan lengang di Rumah. Habis baca buku.

Iseng..
Ngecheck medsos.
Lalu mikir

Ini cuplikannya..

Gila ya!
Semua bisa terhubung lewat internet. Internet hadir disusul media sosial seperti Twitter, FB, Path, dan anteknya. Bahkan Hermawan Kartajaya di bukunya yang berjudul WOW Marketing menyebut bahwa  dunia marketing pun tidak ketinggalan berubah path-nya seiring hadirnya internet. Semuanya terhubung. Tidak hanya terhubung yang biasa, tapi terhubung secara instan. Hitungan detik,satu kali ‘klik’, hanya butuh energi yg minim. 

Media sosial membuat sebagian orang jadi mudah membelokkan citra. Bisa sebagai pendongkrak citra, bisa juga terdegradasi citranya melalui media yang satu ini.  

Interaksi yang banyak dan semakin sering dilakukan manusia pada media sosialnya masing-masing, memunculkan aturan-aturan baru dalam berelasi di dunia sosial. 
Tidak hapal undang-undangnya tapi setidaknya tahu etikanya udah bagus banget kok.
So, jaga diri  jika memutuskan untuk berkeluh kesah di medsos.

"Lho,tapi rasanya tuh puas kalo udah numpahin keluh kesah ke medsos"

Lucu. Memangnya hanya itu satu-satunya media agar puas untuk berkeluh kesah. Mengeluh di media sosial justru memperlihatkan betapa butuhnya si pengeluh akan  perhatian. Oke, kalo minta diperhatiin ya ngobrolah sama teman,orang tua atau orang-orang di kiri kanan. 
Oh, atau kalo orang yang ingin diajak bersosialisasi jauh tempatnya, dan tetep mau maksain dengan media sosial daripada telepon,nggak ada salahnya memakai fitur-fitur seperti direct message di Twitter atau Message Facebook, dan lainnya. Setidaknya sebisa mungkin hindari berkeluh kesah tidak pada tempatnya.

Nah itu jika hubungannya dengan orang lain.
Dan kalo terpaksa ingin mengeluh cari cara yang asik lahh buat ngeluh.

Kalau boleh sharing.
Salah satu tempat favorit saya untuk menghilangkan kebiasaan mengeluh adalah puncak gunung.

(Mahameru,2012)

Karena di puncak gunung saya ngerasa sangat kecil. Di situ terlihat bahwa sebenarnya masalah yang saya alami itu sangat kecil, di luar sana masih banyak masalah besar yang dialamin orang lain, jadi masak segitu aja ngeluh.
Hehehe.
Lantas setelah turun dari gunung masalah saya selesai? Ya enggak! hahaha
Tapi ya keluhan dari dalam pikiran akan berkurang,karena dari situ ada kesadaran baru yang muncul. Logika udah fresh dan siap dipakai.
Cara-cara lain banyak kok, yang penting berenti sejenak untuk “pause” dari rutinitas itu perlu lho untuk menghindari munculnya keluhan yang terucap dari diri.

Oke gini sederhananya.
Orang yang kebanyakan ngeluh, disebabkan karena kurangnya kemampuan menyederhanakan masalahnya.
Kenapa kemampuan menyederhanakan masalahnya berkurang?
Ya karena logikanya lagi belum jalan aja.

Kenapa logika nya belum jalan? Bisa jadi karena belum makan siang. hahaha

Selamat makan siang... mari makan.

Rabu, 17 Februari 2016

Integritas yang Seperti Apa?


Sudah hampir 15 menit saya duduk terdiam di depan laptop dengan mata memandang detikan jam. Terkadang pandangan teralihkan ke secangkir Kopi Robusta yang mulai dingin. Tubuh saya di situ. Pikiran saya sedang piknik.

Masih mengingat-ingat,sebulan terakhir ini sedang banyak mendengarkan opini/berita tentang rasa sangsi terhadap integritas. Benar, integritas yang merupakan sebuah nilai yang masih dikejar.

Desember 2015, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan pengumuman daftar Indeks Integritas Sekolah di Indonesia. Bagi saya itu langkah yang sangat baik. Sangat baik? Untuk siapa?
Untuk masa depan kejujuran di Indonesia.

Integritas adalah hasil dari tanggung jawab. Ya, tanggung jawab terhadap sikap/ucapan bahkan pilihan. Menurut saya, seseorang mampu tanggung jawab terhadap pilihannya jika dia sudah mampu jujur pada dirinya sendiri.



Oke, back to topic..
Pemerintah berani memberikan apresiasi terhadap integritas sekolah merupakan hal yang menarik. Out of the box, nggak sih? Selama ini mereka hadir lewat banyak berita pencegahan korupsi yang mulai terdengar fals di telinga. Mencegah, Melarang, Mengadili, tapi entah kenapa kali ini yang menarik perhatian saya saat mereka hadir dengan langkah apresiasi. Kreatif! They have been thinking the other side!

Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah, lalu bagaimana standard penilaianya sampai muncul daftar indeks integritas sekolah? Kemendikbud menggunakan tolak ukur nilai UN untuk mengukur indeksnya. Memang mendikbud mengakui bahwa indeks integritas yang didapatkan dari UN ini tidak bisa mengukur semua aspek integritas, tapi dari sini setidaknya bisa mencerminkan pola kejujuran sekolah ketika melaksanakan ujian.

Kurang puas dengan lansiran tersebut,saya putuskan untuk diskusi dengan seorang kepala sekolah. Berikut hasil diskusinya:

Justru indeks integritas diambil dari selisih antara rata-rata Nilai Rapot Sekolah (NS) dengan Nilai Ujian Nasional (UN). Semakin kecil selisihnya maka integritasnya semakin tinggi.
Logikanya seperti ini :

Sekolah A          :  Rata-rata NS = 90, Rata-rata UN = 92, maka selisihnya adalah 2.
Sekolah B          :  Rata-rata NS = 90, Rata-rata UN = 50, maka selisihnya adalah 40.
Jadi kesimpulanya Sekolah A memiliki tingkat integritas yang lebih baik daripada Sekolah B.


Emmm…masuk akal jika hubungannya dengan integritas nilai yang didapat dari sekolah. Konsistensi terhadap kemampuan sekolah dalam mempertahankan skornya mampu menjadi tolak ukur integritas sekolah tersebut.

“Loh, sekarang gini deh,ambilah sample acak, misal ada sebuah sekolah yang rata-rata NS nya 90, trus rata-rata UN-nya 90, tetapi sekolah tersebut mewajarkan segala cara untuk meraih point 90 nya. Apa yang seperti ini masih bisa disebut sekolah berintegritas?”

Secara skor? Ya!
Secara jujur? Sama sekali tidak!

Lalu solusinya seperti apa? Computer Based Test setiap melakukan ujian di sekolah? Ayolah…come on.. Hacker Indonesia pinter-pinter lho. Atau Ujian dengan 1 pengawas per 1 siswa? Bolehlah, bisa meminimalisir kok walaupun pasti akan terjadi pembengkakan biaya yang banyak untuk memberi honor pengawas yg jumlahnya sama dengan jumlah siswa yang ikut ujian.

Seketat-ketatnya rok mini, masih ada saja mata laki-laki yang jago menerawang isi rok tersebut. Sama halnya seketat-ketatnya aturan pasti selalu ada saja celah yang bisa dilanggar.

Rok Mini

Wah berarti susah juga ya untuk melakukan penilaian tingkat integritas seorang siswa ataupun sekolah?

Susah tidaknya bagi saya tidak penting. Lebih penting adalah usaha untuk memahami tujuan dari integritas dan kerja sama untuk membangun iklim kejujuran. Memang integritas tidak secara instan terbentuk pada diri seseorang. Kalo masih menagih solusi sih sebenarnya cara paling efektif bagi masyarakat untuk membantu pemerintah adalah  pada pendidikan dasar. Pendidikan dasar tidak hanya di TK,tetapi juga “wajib hidup” di keluarga dan lingkungan tempat tinggal.

Mengajarkan Salah Satu Nilai Moral Berbagi

Mengajarkan Bahasa Inggris kepada anak TK itu penting, tetapi bukankah lebih penting untuk mengajarkanya mengantri saat cuci tangan di wastafel umum, bukankah lebih penting untuk mengapresiasinya saat ia mengakui telah mencoret-coret tembok rumah, bukankah lebih penting untuk mengajarkan untuk bilang “maaf” dan “ terima kasih”? Benih-benih integritas akan muncul dan berkembang dari perbuatan-perbuatan kecil ini.

Jika itu diajarkan secara wajib dan teratur oleh manusia dewasa di Indonesia ke anak-anak disekitarnya, tidak hanya nilai indeks sekolah integritas yang akan naik, tetapi juga nilai Corruption Perception Index. Sangat erat hubungan antara integritas dengan korupsi.

Transparency International sebuah lembaga survei tentang tingkat korupsi Negara-negara dunia yang bermarkas di Berlin, telah meluncurkan sebuah Corruption Perception Index setiap tahunnya. Tahun 2015, Indonesia berada di urutan 88 dalam Corruption Perception Index dari 168 negara dan territorial. Memiliki nilai 36 dari skala 100. Skala ini menunjukkan bahwa 0 berarti negara dipersepsikan sangat korup, sementara skor 100 berarti dipersepsikan sangat bersih.




10 Besar CPI 
(Sumber : http://www.transparency.org/cpi2015)






Posisi Indonesia di CPI
(Sumber : http://www.transparency.org/cpi2015)
(Sumber GCI : http://www3.weforum.org/docs/WEF_GlobalCompetitivenessReport_2014-15.pdf )


Goalnya adalah Corruption Perception Index-nya bagus, otomatis nilai Global Competitiveness Index (indeks kompetensi global) juga naik. Hal ini terjadi karena tingkat kompetensi global sebuah negara juga dapat dilihat dari seberapa besar tingkat korupsi di negara tersebut. Semakin dini dan terbiasa siswa mendapatkan apresiasi tentang kejujuran,secara ideal, integritasnya akan naik juga, karena di mindset-nya melakukan tindakan jujur merupakan hal yang bahagia. Saat berbicara masyarakat dengan tingkat integritas kejujuran baik yang terukur lewat indeks-indeks tersebut, mimpi Indonesia untuk memiliki pemimpin "bersih" bukan mustahil akan terwujud. 
Karena integritas diawali dari kejujuran, dan kejujuran adalah investasi jangka panjang yang sangat baik dan potensial bagi sebuah negara.

Bryansetio
.     

 

       

Minggu, 29 November 2015

Spesial untuk Umur Satu Tahun

Kebetulan teman-teman kontrakan sudah tidur ya menulislah yang sering jadi jembatan saya untuk refleksi buah pikir.

Bicara mengenai spesial, ada sebuah cerita. Cerita tentang seseorang yang spesial dan membuat banyak belajar darinya. Manusia lahir ke dunia ini dengan karakter dan kondisinya masing-masing. Alangkah kreatif penciptanya sehingga membuat mereka manusia berbeda satu sama lain.

Manusia terdoktrin sebagai makhluk yang cerdas sehingga mereka mampu menciptakan faham dan kebiasaanya sendiri. Kebiasaan yang cenderung malah membuat mereka tampak sama,padahal awalnya diciptakan berbeda. Kecenderungan untuk berusaha mencapai tingkat kehidupan yang lebih sejahtera. Bahkan dekade ini hadir dengan membawa berbagai macam media sosial yang membuat manusia memiliki “tambahan visi” agar ingin dilihat orang lain. Lagi-lagi cenderung mengejar kesamaan.

            Uniknya beberapa waktu yang lalu saya tertarik dan memilih untuk mengenal sudut pandang spesial yang melekat pada diri seseorang. Sudut pandang yang sering berbeda. Ya. Aneh! Tapi menyenangkan sekali bertemu manusia semacam itu.  Dia banyak belajar dari apapun,dari siapa pun, dan di manapun. Saya adalah orang yang banyak bicara dan dia banyak mendengarkan. Saat banyak mencari,dia perbanyak memberi.

Lalu dia apa? Bukan Manusia? Tidak, bukan seperti itu maksudnya. Tidak pernah menganggap dia seperti manusia pada umumnya. Kenapa? Karena dia berbeda. Tidak umum. Jauh dari kata umum. Tapi sangat dekat dengan kata biasa. Dia adalah manusia biasa. Sangat biasa, sangat sederhana, dan saya memanggilnya enggar.
Happy Anniversary.



Bryansetio

Rabu, 25 November 2015

Darimu Guru

Lagi-lagi curi waktu di sela mengerjakan tugas akhir sarjana saya. Karena ini adalah Hari Guru, teringat tentang guru-guru yang pernah mengajarkan  banyak hal mengesankan yang masih saya ingat sampai detik ini.

Guru itu apa sih? Guru adalah manusia yang punya tanggung jawab untuk mengajarkan ilmu yang dimilikinya ke orang lain. Jadi secara langsung kualitas suatu sumber daya manusia banyak dipengaruhi oleh kualitas pendidikan yang dialaminya. Dan guru jelas jadi manusia di garda depan pendidikan yang berhubungan langsung dengan murid yang diajarnya.

Apa guru itu hanya mengajarkan matematika, fisika, sosiologi? Kalau mengajarkan cara masak? Mengajarkan caraku mencintaimu? Halah.

Tentunya ada batas yang jelas di sini. Saat seseorang mengajarkan ilmu nya ke orang lain, beliau layak disebut guru. Perkara mengajarkannya secara tulus atau hanya mengejar tunjangan sertifikasi guru, bisa dilihat dari kualitas anak didiknya,kok.

Saya punya banyak kenangan yang berkesan saat berhubungan dengan guru-guru. Guru Matematika  SMP saya,  Pak Sarno. Sosok lugu, tinggi, yang sering saya lihat turun dari bus kota dengan baju safari-nya. Kenapa Pak Sarno berkesan?  Pak Sarno adalah guru matematika kelas 3 SMP saya. Guru yang terakhir kali  pernah memberi nilai 100 saat ulangan matematika. Ini sangat berkesan, karena memang bagi saya dari dulu sampai sekarang sangat jarang mendapat nilai 100. Bahkan saking jarangnya, masih ingat kapan terakhir kali nilai 100 didapat.

Oke lah, itu singkat tentang pengajaran Pak Sarno.   

Guru berikutnya yang sangat berkesan adalah Bu Yanik dan Pak Bambang. Beliau-beliau ini merangkap job desk sekaligus sebagai orang tua saya. Kebetulan bapak ibu saya adalah pengajar. Ibu adalah seorang guru SMA, dan Bapak berprofesi sebagai seorang instruktur mesin. Jadi ya hobinya sharing ilmu.

Ibu dengan seragam guru-nya

Kalau bisa dibilang, Ibu adalah guru yang tidak pernah menuntut saya untuk menjadi orang yang pintar. Di lain sisi, Ibu hanya minta tolong agar putra putrinya jadi manusia yang jujur dan berguna untuk lingkungan sekitarnya. Karena memang menurut prinsip hidup beliau, someday kejujuran akan jadi salah satu skill yang "mahal". Sebab tidak banyak orang yang memilikinya. 

Begitu pula dengan bapak. Bapak adalah guru yang sering mengajarkan tentang arti kepemimpinan. Di benaknya yang namanya pemimpin harus terus belajar. Tidak boleh berhenti. Banyak baca, cari mentor-mentor yang baik untuk saling berbagi ilmu.
   
Bapak

Seakan dari dulu Bapak Ibu ingin menyampaikan “You can do it! dan Hadapi!” ke murid-muridnya dengan berbagai cara . Serta menawarkan kemewahan berupa tantangan dan kerendah hatian untuk terus berbagi.

Selamat Hari Guru, Pak, Bu. Terima kasih selalu.



Bryansetio.

Senin, 09 November 2015

Tujuan Baik

Jika tujuannya baik dan bermanfaat buat orang lain, pasti selalu ada jalannya.
Ada beberapa pertanyaan, yang sering terlintas di pikiran. Tentang “mau ngapain setelah ini?” “mau seperti apa nantinya”

Pertanyaan yang selalu terlintas menjelang akhir dari suatu apapun. Pertanyaan yang sering terlintas saat berada di persimpangan penting dalam hidup. Penuh analisis jelas penting, tapi jika terlalu lama analisis ,terlambat pun datang. Kesempatan bisa jadi hilang. Kalau ada kesempatan kedua pun kemungkinan besar datangnya tidak semudah kesempatan pertama.

Banyak baca dan banyak teman akan sangat membantu. Buku, Koran, dan sekarang ada internet jelas-jelas menyediakan tidak hanya sekedar informasi tapi juga pengetahuan. Teman hadir sebagai mentor yang tidak selalu memberi solusi tetapi setidaknya selalu siap jadi pendengar yang baik. Dua unsur yang saling melengkapi di setiap pengambilan keputusan.


Keputusan sudah diambil. Selanjutnya tinggal memohon berkat dan kelancaran jalan. Jika prosesnya benar , tujuannya baik, dan bermanfaat buat orang lain, pasti dilancarkan. 


Bryansetio.

Selasa, 03 November 2015

Too Much Love Will Kill You



“.. Just as sure as none at all.
It'll drain the power that's in you
Make you plead and scream and crawl
And the pain will make you crazy
You're the victim of your crime
Too much love will kill you every time…”

Pernah dengar penggalan lirik ini?

Brian May gitaris band Queen, komposer Frank Musker, dan Elizabeth Lamers punya andil besar dalam terciptanya lagu ini. Ya! Too Much Love Will Kill You dibawakan Queen pada tahun 1988, dan meninggalnya sang vokalis Freddie Mercury tahun 1991 seakan bercerita mengenai lagu ini.

sumber : darksoul.wikia.com                                                      
Queen 

Entah kenapa mendengar lagu ini, di imajinasi saya ada seorang Freddie Mercury sedang bernyanyi bertelanjang dada dengan gerak tubuh enerjiknya  di atas panggung. Diiringi suara piano dan lead guitar Brian May,  permainan bass serta drum dari Deacon dan Taylor. Lengkap! Seakan ingin menyampaikan sebuah pesan tentang rasanya menjadi manusia terkenal. Menjadi manusia yang dicintai banyak manusia lain. Menjadi manusia yang dekat dengan gemerlapnya dunia.

sumber : mindtalk.com                                                        
                                                     

Ada saat di mana seseorang menjadi banyak dikenal oleh orang lain. Banyak orang yang mencintainya. Entah karena karir, pesona, atau karisma. Respon terhadap sanjungan, pujian, dan cinta yang membedakan satu dengan yang lain.

“…Too much love will kill you
If you can't make up your mind..”


Penguasaan diri akan rendah hati punya andil besar. Larut dalam asiknya sanjungan,pujian, dan cinta tidak akan menambah nilai. Pada akhirnya justu sanjungan, pujian, dan cinta itu yang akan membunuhnya perlahan.


Bryansetio 

Jumat, 04 September 2015

Tentang Sebuah Kebebasan Berekspresi

Momen ini sudah lewat dua minggu lalu bertepatan dengan ulang tahun Indonesia dan SMA saya tercinta.

Berawal dari perbincangan ringan dengan seorang sepupu. Mas Ronny, begitu saya memanggilnya. Saat itu dia sedang pulang kantor dan melepas penat sejenak lewat bermain dengan putri semata wayangnya, Arli.  Arli sosok bocah menggemaskan yang hobinya lari dan menggambar itu meminta sesuatu ke Bapaknya. Lalu dengan gesit si Bapak menyodorkan sebuah bolpen dan kertas untuk media “dicorat-coret” Arli.

“Kalau nggak gini, dia bakal nyoret-nyoret tembok dek,” celetuk Mas Ronny ke saya,sambil menunjuk bagian sudut rumahnya yang penuh coretan bolpen.

.....................................

Tiba-tiba saya teringat kejadian satu dekade yang lalu. Pada waktu itu saat masih duduk  di bangku SMA kelas 10. Kami sekelas dihukum lari keliling lapangan sambil bertelanjang dada akibat melakukan aksi vandalisme di meja sekolah. Meja dengan penuh coretan tipe-x terlihat sangat mencolok mata. Kotor sana sini. Masih teringat raut wajah guru yang pada waktu itu marah besar melakukan introgasi kepada kami atas tindakan yang diperbuat.

Konyol rasanya jika diingat-ingat.

Sekolah saya sudah dengan senang hati memberikan temboknya untuk dicorat-coret setiap tanggal 17 Agustus oleh para murid. Ya, Sekolah memang sangat menentang aksi  corat-coret yang tidak pada tempat nya , namun di sisi lain, tidak hanya menentang, mereka juga menghadirkan solusi kepada kami untuk berekspresi corat-coret di beberapa tembok-tembok yang memang “legal” untuk dicorat-coret. Jadi memang saat itu wajar saja jika guru saya marah bukan kepalang, karena kami bermain tidak pada tempatnya.

Ekspresi itu butuh ruang...

Tapi tidak di ruang yang ilegal seperti yang saya lakukan dengan teman-teman lewat vandalisme pada waktu kelas 10 SMA dulu.
Tapi tidak di ruang yang ilegal seperti yang dilakukan pendaki "alay" yang mencoret-coret batuan di puncak gunung.
Tapi tidak di ruang yang ilegal seperti yang dilakukan penumpang yang mencoret-coret kursi di fasilitas umum.

Ekspresi itu butuh wadah....

Wadah yang tepat sebagai pemacu kreativitas, seperti yang diberikan Mas Ronny ke putri kecilnya.

Menurut segi pandang saya, saat seseorang tumbuh dewasa dengan karakter temperamental atau mudah terbawa emosi, bisa jadi karena dulu semasa jadi pelajar kurang punya ruang/wadah bebas berekspresi yang tepat. Bisa-bisa orang-orang sekitar yang kena dampaknya akibat salah berekspresi.
Sebab ekspresi merupakan bagian dari luapan kebebasan manusia yang dibatasi oleh kebebasan manusia yang lain.

Salam hangat.
Selamat berekspresi pada tempatnya.





Bryansetio